SUMENEP, News Daerah – Setelah dua bulan berturut
Kabupaten Sumenep mengalami Deflasi, namun di bulan April 2015 Kabupaten
Sumenep mengalami inflasi sebesar 0,05 persen dengan indek harga konsumen (IHK)
116,78.
Berdasarkan data yang berhasil dihimpun News Daerah dari Badan Pusat Statistik
(BPS) Sumenep, tingkat infalsi Kabupaten Sumenep terendah dibandingkan tujuh
Kota/Kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Timur.
Sesuai data bulanan, Komulatif dan YOY bulan
April 2015 inflasi tertingi terjadi di tiga Kota/Kabupaten, yakni Kota Malang
sebesar 0,49 persen, Kota Surabaya sebesar 0,41 persen, dan Kota Madiun sebesar
0,39 persen.
Sementara inflasi di Kabupaten Banyuwangi dan
Kota Probolinggo, masing-masing 0,36 persen, Kota Kediri sebesar 0,31 persen,
dan Kabupaten Jember sebesar 0,17 persen.
”Jika dua bulan yang lalu Sumenep mengalami
deflasi, bulan Arpil Sumenep mengalami inflasi. Sesuai IHK yang ada, tingkat
inflasi bulan April Sumenep berada ditingkat terendah dibanding tujuh daerah yang
lain,” kata Kepala BPS Sumenep Suparno.
Dikatakan,
ada sepuluh komoditas penyebab terjadinya inflasi, yakni Bensin, tongkol
pinang, tongkol segar, bawang putih, udang basah, cakalang/sisik, cabai merah,
tomat sayur, gula pasir dan upah pembantu ruamh tangga.
Sementara
komiditas yang menyebabkan terjadinya deflasi antara lain, beras, daging sapi,
pepaya, melon, sawi hijau, kentang, ketimun, bayam, daging ayam ras dan rempela
hati ayam.
Sedangkan
dilihat dari kelompok pengeluaran, dari 7 kelompok pengeluaran, 6 kelompok
mengalami inflasi dan satu kelompok mengalami deflasi.
Kelompok
pengeluaran yang mengalami inflasi adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok
dan tembakau 0,33 persen, kelompok perumahan, air, listrik gad dan bahan bakar
0,27 persen, kelompok sandang 0,01 persen, kelompok kesehatan 0,14 persen,
kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,14 persen, kelompok transport,
komunikasi dan jasa keuangan 1,31 persen.
”Satu kelompok pengeluaran yang mengalami
deflasi adalah kelompok bahan makanan sebesar 1,23 persen,” terang Suparmo.
Lebih
lanjut Suparmo mengatakan, dilihat dari kalender tahunan, (April 2014-April
2015) Sumenep mengalami inflasi sebesar 6,46 persen, Jawa Timur sebesar 6,48
persen dan Nasional deflasi sebesar 6,79 persen.
Sementara tingkat inflasi tahun kalender
(Januari-April 2015) Sumenep mengalami deflasi sebesar 0,44 persen, Jawa Timur
terjadi inflasi sebesar 0,37 persen dan Nasional deflasi sebesar 0,08 persen.
”Tidak hanya Sumenep yang mengalmi inflasi,
melainkan tingkat Jawa Timur dan Nasional juga terjadi inflasi. Inflasi
ditingkat Jawa Timur sebesar 0,39 persen dan tingkat Nasional sebesar 0,36
persen.” Pungkasnya. (di/fa)

