Sumenep, Newsdaerah.Com - Syaiful Anang salah
satu tokoh masyarakat Pulau Gili Raja, Kecamatan Gili Genting, mendesak
pemerintah daerah setempat untuk segera menyelesaikan pembanguan kelistrikan
melalui PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) tersebut. Sebab, menurutnya,
penerangan di Gili Raja sangat dibutuhkan oleh warga setempat.
”Semua warga di sini (Gili Raja)
menginginkan agar penerangan melalui PLTD itu bisa segera terujud,” katanya
kemarin.
Syaiful mengatakan, akibat
lambannya realisasi kelistrikan tersebut menyebabkan semua warga pulau Gili
Raja sengsara. Sebab, setiap bulannya untuk penerangan warga harus membayar
smpai ratusan ribu.
”Itu pun penerangan disini tidak
full 24 jam. Hanya hidup dari pukul 17.00 hingga pukul 21.00. kemudian hidup
lagi sekitar pukul 04.00 dan mati lagi sekitar pukul 06.00,” ungkapnya.
Menurutnya, dirinya menuntut agar
pemeritnah daerah dalam membangun kelistrikan di pulau giuli raja tidak hanya
menggantungakan kepada APBD, melainkan membukan ruang bagi perushaan swasta.
Sepertihalnya perusahaan PT Santos.
PT Santos merupakan peruhsaan
yang bergerak dibidang migas. Sementara untuk tempat kerjanya berada dikawasan
Pulau Gili raja. ”Mestinya kalau anggran APBD sudah tidak memungkinkan, maka
pemerintah daerah harus kreatif dan mencari jalan keluarnya. Jangan diam saja,”
terangnya.
Oleh sebab itu, jika pemerintah
daerah tidak segera merealisasikan proyek tesebut maka dirinya mengancam akan
melakukan aksi demonstrasi. ”Jangan sampai warga marah. Karena kalau warga
sampai marah dipastikan akan berbuat anarkis,” ungkpanya.
Menanggapi hal itu, Kepala Kantor
Energi Sumberdaya Mineral (ESDM) Kabupeten Sumenep Abd. Kahir mengatakan, dirnya
tidak bisa memastikan pengadaan kelistrikan di Pulau Gili Raja bisa selesai
dengan waktu yang singkat. Selian proyek tersebut merupakan proyek multiyears
juga anggan yang disedikan oleh pemerintah daerah sangat minim.
Anggaran pembangunan pengembangan
kelistrikan di Pulau Gili Raja, Kecamatan Gili Genting diperkirakan membutuhkan
anggaran sebesar Rp 17 miliar. Hanya saja anggaran yang tersedia saat ini
sekitar 3,2 miliar. Sementara kebutuhan anggaran untuk pembangunan jaringan
diperkirakan menghabiskan anggaran sebesar Rp 7 miliar.
”Tahun ini kami masih pengadaan
tiang listrik. Untuk pengadaan jaringan kesetiap rumah, baru kami agendakan
tahun depan,” katanya.
Selain itu, pada tahun 2016
mendatang pihaknya juga merencanakan akan melakukan pembebasan lahan untuk
ditempati gensetnya. Jika itu sudah selsai maka pada tahun anggaran 2017
mendatang, pihaknya kan melakukan pembanguan rumah listrik dan pengadaan mesin
genset. ”Kalau itu sudah selesai semua, maka kita tinggal mengatur
pengelolaannya,” ungkpanya.
Hanya saja dirinya belum bisa
memastikan, apakah sistem pengelolaannya dilakukan dengan cara dipihak
ketigakan atau tidak. ”Kita tunggu saja soal nanti mengenai hal itu,” tukasnya.
(ND)
