Sumenep, Newsdaerah.Com – Tidak salah kiranya
jika Kabupaten Sumenep dinobatkan sebagai kota keris. Sebab, Kabupaten yag
berada diujung timur pulau madura, merupakan Kabupaten pengrajin keris terbesar
di asia. Bahkan, hasil kerajinan keris sudah menembus pasaran hingga manca
negara.
Penobatan tersebut ditandai
dengan pembangunan monomin keris yang berada di pintu masuk bagian barat kota
Kabupaten Sumenep, tepatnya di simpang empat Pandian dan Kelurahan Karangduak.
Monomin tersebut ditandatangai langsung oleh Bupati Sumenep A. Busyro Karim sebagai rangkaian peringatan Hari Jadi Sumenep ke 745
tahun 2014.
Meskipun demikian, tidak semua
pengrajin keris yang tersebar di 27 Kecamatan dilingkungan Pemkab Sumenep, bisa
menembus pasaran hingga luar negeri, melainkan hanya tiga kecamatan yang
dijadikan sentra pengrajin keris terbaik tingkat nasional maupun intrnasional.
Yakni Kecamatan Saronggi, Bluoto, dan Kecamatan Lenteng.
Salah satu pengrajin keris Asal
Desa Palongan, Kecamatan Bluto, Fathorrahman menjelaskan, saat ini hasil
kerajinannya sudah bisa menembus pasaran hingga luar negeri. ”Banyak warga
Jipang yang memesan hasil kerajinan kami. Bahkan setiap bulan dipastikan selalu
ada,” katanya.
Pria yang saat ini menjabat
sebagai Ketua Ikatan Pengrajin Keris Indonesia (IPKI) mengatakan, ada tiga
kategori keris yang dibuatnya, yakni keris jenis koleksi, keris jenis souvener,
dan juga keris jenis istimewa atau khusus pegangan pribadi.
Hasil produksi setiap bulannya
dari tiga jensi tersebut dikirim keberbagai negara di asea. Salah satunya,
Malaysia, Singapur, Brunai Darusalam, Kalimantan, Jakrta, Jawa Tengah, Bali dan
berbagai wilayah lainnya.
Sementara harga setiap jenis
keris tidak sama, jika keris jenis souvener dipatok dengan harga Rp 500-1 juta,
dan jenis keris keleksi dipatok dengan harga Rp 2-3 juta. Sedangkan untuk jenis
keris istimewa lebih mahal mulai dari Rp 5 juta sampai tembus puluhan juta
persatu unitnya.
Sebab, keris jenis istimewa
selain terbuat dari bahan yang bisa dikatakan langka, juga masih diberi
aksesoris berbahan mulia. Salah satunya keris tersebut dilapisi emas, perak,
dan bahan mulia yang lain.
”Selain itu, cara pembuatannya
sangat sulit. Kalau unutk jenis Souvenir bisa dilakukan dalam waktu satu hari,
namun kalau jenis istimewa bisa memakan waktu sapai tiga hari,” terangnya.
Saat ini IPKI merupakan sentra
pengrajin keris yang membawahi sebanyak kurang lebih 555 pengrajin keris yang
tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamata Bluto, Saronggi, dan Kecamatan
Lenteng.
Sedangkan omset yang didapat
setiap bulannya cukup fantastis. Itu terlihat dari jumlah hasil kerajinannya
setiap bulan mencapai hingga ribuan unit. Jika dikalikan dengan harga yang
dipatok, maka penghaslan yang didapat setiap bulannya tidak kurang dari Rp 10
juta lebih.
”Semua hasil kerajian itu, kami
sebar di seluruh nusantara. Bahkan kalau di tingkat Asia, bisa dibilang 99
persen produk dari Desa Palongan semua,” ungkapnya.
Untuk
mengenalkan produk hasil kerajinannya sampai ke manca negara itu dilakuakn
dengan cara berbeda. Salah satunya dengan penerbitan buku, megukuti acara
pameran yang diselenggarakan disetiap daerah, muliai tingkat regional, nasional
maupun internasional. Bahkan untuk mengenalkan keris tersebut pihaknya membuat
film dokumenter.
"Kalau
pembuatan film dokumenter Alhamdulillah kami dapat bantuan dari Pemerintah
pusat melalui kementrian," terangnya. (ND)
