Sumenep, Newsdaerah.Com – Upaya pemerintah daerah untuk mendongkrak pendapatan asli
daerah (APD) dari sektor pasar tradisional belum maksimal. Buktinya, PAD dari
sektor pasar tradisional tahun 2015 tidak sesuai dengan target yang ditetapkan
oleh pemerintah daerah.
Pendapatan PAD tahun 2015 dari sektor pasar tradisional taun 2015
ditarget sebesar Rp 2 miliar. Namun, retribusi tersebut saat ini hanya terpenuhi
sebesar Rp 1 miliar 200 juta.
Kepala Bidang Pendapatan, Dinas Pengelolaan, Keuangan dan
Aset (DPPKA) Sumenep Imam Sukandi, menjelaskan, ada beberapa
faktor tidak terpenuhinya target tersebut, salahsatunya disebabkan imbas
terbakarnya pasar anum beberapa bulan yang lalu.
Sehingga retribusi pasar anum yang
mestinya mencapai target, malah sangat jauh dari yang diharapkan sebelumnya.
"Untuk retribusipasar anum yang masuk ke PAD saat ini hanya seperlima dari target sebesar
Rp 400 juta," katanya.
Selama ini pasar anum telah terjadi sebanyak dua kali
kebakaran. Pertama pada tahun 2007, dimana sebanyak 212 toko dan kios milik pelaku
pasar ludes dilahap sijago merah. Peristiwa tersebut kembali terjadi pada tahun
2014. Saat itu sebanyak 800 kios dan pertokoan rata dengan tanah seelah
terbakat. Modus kedua persitiwa tersebut hingga saat ini maish mesterius.
Menurut Imam selain akibat kebakaran, saat ini keberadaan
pasar hewan di kabupaten sumenep mengalami penurunan ang cukup derastis.
"Menurunnya pasar sapi itu
secara otomatis menjadi faktor minimnya pemasukan ke PAD. Padahal,
kami sudah berusaha untuk memfasilitasi dengan cara melakukan pembenahan.
Sehingga masukan ke PAD juga
mengalami peningkatan," ungkpanya.
Dijelaskan, saat ini pasar hewan yang mulai 'tidak sehat'
itu,
yakni pasar Ganding dan pasar Rubaru. Bahkan, saat ini minat
masyarakat untuk melukan transaksi jual beli hewan menurun hingga kisaran 75
persen setiap pasaran.
Untuk pasar hewan Ganding saat ini hanya sekitar 40 ekor setiap
minggunya. Padahal sebelumnya setiap hari senin bisa mencapai 300 ekor.
Sedangkan di pasar Rubaru yang sebelumnya bisa tembus 500
ekor, namun saat ini hanya sekitar 80 hingga 100 ekor setiap kali pasaran.
"Sebelumnya dua pasar tradisional
itu sangat besar, namun beriringnya perkembangan waktu dua pasar itu mengalami penurunan yang sangat
derastis. Malah jenis sapi yang dipasarkan juga menurun, kalau dulu sapi yang
dipasarkan berfariasi dari jenis sapi yang berukuran kecil hingga ukuran yang
paling besar, namun saat ini yang dipasarkan hanya jenis sapi berukuran kecil
saja," terangnya
Sementara pasar hewan yang
saat ini masih tetap stabil, menurut Imam hanya tinggal dua. Yakni pasar Bangkal yang terletak di Desa Bangkal,
Kecamatan Kota Sumenep, dan pasar tradisional
Lenteng yang berada di Kecamatan Lenteng.
"Dua pasar ini masih
stabil. Bahkan bisa dibilang samakin meningkat. Makanya kami harap masyarakat
setempat bisa menjaga dan mempertahankan kondisi tersebut," ungkapnya
Menurut pria berpostur tubuh tinggi itu, sebagai langkah
konkrit yang akan dibangun untuk mendongkrak pendapatan dari sektor pasar pada tahun selanjutanya, pihaknya
terus akan melakukan pembenahan. Baik, dari segi fasilitas maupun yang lainnya.
"Kami harap masyarakat bisa semakin meningkatkan
keberadaan pasar tradisonal. Kaerena pasar tradisional merupakan salah satu cara
untuk menumbuhkan ekonomi kerakyatan," harapnya.
Terpisah Anggota Komisi II DPRD Sumenep Badrul Aini menilai
belum tercapainya retribusi tersebut karena pengelolaannya kurang maksimal.
Sehingga, retribusi yang dibayarkan rentan bocor.
Menrutnya, jika pengelolaan pasar tradisional dioptimalkan,
diyakini target sebesar Rp 2 miliar akan terpenuhi. Karena saat ini banyak pos
anggaran yang terkesan dikesampingkan oleh pemerintah, seperti retribui parkir.
”Sangat sedikit tempat paerkir yang dikelola oleh pemerintah
daerah. Bahkan lebih banyak yang dikelola oleh pihak lain,” terangnya.
Oleh sebab itu, pihaknya menekan agar kedepan Pemerintah
Daerah terus berbenah diri, termasuk membangun sejumlah fasilitas yang
diperlukan, speerti mosollah, MCK. Sehingga, retribusi terus mengalmi
peningkatan. ”Jangan diam saja jika mau maju,” tegasnya.
Untuk diketahui, saat ini jumlah pasar kecamatan yang
tersebar di 27 Kecamatan dilingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep
sebanyak 29 pasar tradisional. Sementara pasar desa saat ini sudah mencapai
ratusan. (ND)

