![]() |
| Warga Saat Menyigel |
Sumenep, NewsDaerah – Sedikitnya
25 warga asal Dusun Somor Dalem, Desa Banbaru, Pulau Gili Raja, Kecamatan Gili
Genting, berbonding-bondong melakukan penutupan secara paksa Sekolah Dasar
Negeri (SDN) I Banbaru, Senin (6/3). Akibatnya semua siswa yang hendak
mengikuti KBM (Kegiatan Belaja Mengajar) pagi itu terlantar di jalanan karena
tidak diperbolehkan masuk meskipun ke halama sekolah.
Informasinya
aksi penutupan yang dimulai sekitar pukul 08.30 itu disebabkan karena
kepemilikan lahan yang ditempati sekolah pelat merah itu hingga saat ini masih
belum jelas. Sehingga membuat amarah warga utamanya ahli warits pemilik lahan tersebut
memuncak.
Awalnya, tanah
yang ditempati SDN I Banbaru itu milil almarhum (alm) Siruddin Nata Sudibyo, karena
tanah tersebut dinilai sangat prosfek untuk di tempati sekolah, maka pemerintah
melakukan tukar guling dengan tanah pecaton. Hanya saja pemeritnah daerah
hingga saat ini belum merubah status kepemilikan tanah pecaton tersebut. Akibatnya,
status kepemilikan tanah itu menjadi buram.
”Kiranya
keluarga kami sangat sabar menunggu janji pemeritah yang akan membalik nama
tanah pecaton kepada keluarga kami. Tapi sayangnya kesebaran kami sudah tidak
bisa dibendung lagi, karena sudah puluhan tahun lamany akami menunggu belum ada
kejelasan juga. Makanya kami terpaksa menyegelnya,” kata Edi Junaidi kemarin.
Menurut menantu H. Nawami, keturunan alm Siruddin Nata Sudibyo
itu, mengklaim jika tanah yang dibangun sekolah tersebut merupakan tanah milik
alm Siruddin Nata Sudibyo. Namun status kepemilikan lahan itu berubah sejak tahun
1970 saat pemerintah hendak akan membangun sekolah.
Sebagai gantinya,
alm Siruddin diberi kewenangan untuk mengelola sekaligus memiliki tanah pecaton
milik desa setempat, dnegan konpensasi akan dibalik nama kepada alm Siruddin atau kepada ketrunanya.
Hanya saja pada
tahun 2006 silam, pemerintah daerah memberikan titik terang kepada keturunan alm
Siruddin untuk segera menyelesaikan permasalahan tersebut. Namun upaya
pemerintah itu hingga saat ini masih belum terlaksana dengan baik
![]() |
| Siswa Terlantar |
”Daripada nanti
kami tidak mendapatkan apa-apa, mending dari sekarang kami tutup saja SD ini,
biar kalau tanah pecaton betul-betul diambil pemerintah, kami bisa menggarap
tanah ini,” tegas Edi Kuncir sapaan akrabnya Edi Junaidi itu.
Sementara Kepala Sekolah SDN I Banbaru Supardi,
mengaku masih berkoordinasi dengan dinas pendidikan dan belum menemukan solusi.
Pihaknya masih mencari tempat untuk kegiatan belajar mengajar sementara.
"Saya masih mencari rumah warga yang mau
ditempati untuk kegiatan belajar mengajar," tandasnya.
Sementara akibat peristiwa itu, sebanyak 91
siswa SDN I Banbaru mulai kelas 1-6 terpaksa dibolehkan pulang ke rumahnya
masing-masing. Hal itu selama berjam-jam terkatung-katung di pinggir jalan
tanpa ada kejelasan.
Kepala Bidang
Pendidikan Dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep Fajarisman mengaku
sudah mendapatkan laporan terkait aksi penyigelan tersebut. Hanya saja dirinya
untuk saat ini masih belum bisa memberikan solusi cerdas agar persamalahan
tersebut bisa terselesaikan. Sehingga KBM di SDN I Banbaru bisa berjalan
sebagaimana biasanya.
”Untuk
laporannya sudah masuk pada kami, tapi kami masih belum bisa berbuat banyak,
karena kasus itu sudah lama terjadi,” katanya.
Meskipun
demikian, pihaknya mengaku akan terus mengupaykan agar persoalan tersebut
segera teratasi. ”Kami tetap akan mengupayakan, karena ini menyangkut persoalan
KBM. Saat ini kami masih melakukan inventarisir terhadap sejumlah lahan SD yang
masih dalam sengketa,” tukasnya. (di/fa)

.jpg)
.jpg)