» » Warga Ramai-Ramai Tutup Paksa SDN I Banbaru, Siswa Dibiarkan Terlantar Dijalanan

Warga Ramai-Ramai Tutup Paksa SDN I Banbaru, Siswa Dibiarkan Terlantar Dijalanan

Penulis By on Senin, 06 April 2015 |


Warga Saat Menyigel


Sumenep, NewsDaerah – Sedikitnya 25 warga asal Dusun Somor Dalem, Desa Banbaru, Pulau Gili Raja, Kecamatan Gili Genting, berbonding-bondong melakukan penutupan secara paksa Sekolah Dasar Negeri (SDN) I Banbaru, Senin (6/3). Akibatnya semua siswa yang hendak mengikuti KBM (Kegiatan Belaja Mengajar) pagi itu terlantar di jalanan karena tidak diperbolehkan masuk meskipun ke halama sekolah.
Informasinya aksi penutupan yang dimulai sekitar pukul 08.30 itu disebabkan karena kepemilikan lahan yang ditempati sekolah pelat merah itu hingga saat ini masih belum jelas. Sehingga membuat amarah warga utamanya ahli warits pemilik lahan tersebut memuncak.
Awalnya, tanah yang ditempati SDN I Banbaru itu milil almarhum (alm) Siruddin Nata Sudibyo, karena tanah tersebut dinilai sangat prosfek untuk di tempati sekolah, maka pemerintah melakukan tukar guling dengan tanah pecaton. Hanya saja pemeritnah daerah hingga saat ini belum merubah status kepemilikan tanah pecaton tersebut. Akibatnya, status kepemilikan tanah itu menjadi buram.
”Kiranya keluarga kami sangat sabar menunggu janji pemeritah yang akan membalik nama tanah pecaton kepada keluarga kami. Tapi sayangnya kesebaran kami sudah tidak bisa dibendung lagi, karena sudah puluhan tahun lamany akami menunggu belum ada kejelasan juga. Makanya kami terpaksa menyegelnya,” kata Edi Junaidi kemarin.
Menurut menantu H. Nawami, keturunan alm Siruddin Nata Sudibyo itu, mengklaim jika tanah yang dibangun sekolah tersebut merupakan tanah milik alm Siruddin Nata Sudibyo. Namun status kepemilikan lahan itu berubah sejak tahun 1970 saat pemerintah hendak akan membangun sekolah.
Sebagai gantinya, alm Siruddin diberi kewenangan untuk mengelola sekaligus memiliki tanah pecaton milik desa setempat, dnegan konpensasi akan dibalik nama kepada  alm Siruddin atau kepada ketrunanya.
Hanya saja pada tahun 2006 silam, pemerintah daerah memberikan titik terang kepada keturunan alm Siruddin untuk segera menyelesaikan permasalahan tersebut. Namun upaya pemerintah itu hingga saat ini masih belum terlaksana dengan baik
Siswa Terlantar
”Daripada nanti kami tidak mendapatkan apa-apa, mending dari sekarang kami tutup saja SD ini, biar kalau tanah pecaton betul-betul diambil pemerintah, kami bisa menggarap tanah ini,” tegas Edi Kuncir sapaan akrabnya Edi Junaidi itu.
Sementara Kepala Sekolah SDN I Banbaru Supardi, mengaku masih berkoordinasi dengan dinas pendidikan dan belum menemukan solusi. Pihaknya masih mencari tempat untuk kegiatan belajar mengajar sementara.
"Saya masih mencari rumah warga yang mau ditempati untuk kegiatan belajar mengajar," tandasnya.
Sementara akibat peristiwa itu, sebanyak 91 siswa SDN I Banbaru mulai kelas 1-6 terpaksa dibolehkan pulang ke rumahnya masing-masing. Hal itu selama berjam-jam terkatung-katung di pinggir jalan tanpa ada kejelasan.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep Fajarisman mengaku sudah mendapatkan laporan terkait aksi penyigelan tersebut. Hanya saja dirinya untuk saat ini masih belum bisa memberikan solusi cerdas agar persamalahan tersebut bisa terselesaikan. Sehingga KBM di SDN I Banbaru bisa berjalan sebagaimana biasanya.
”Untuk laporannya sudah masuk pada kami, tapi kami masih belum bisa berbuat banyak, karena kasus itu sudah lama terjadi,” katanya.
Meskipun demikian, pihaknya mengaku akan terus mengupaykan agar persoalan tersebut segera teratasi. ”Kami tetap akan mengupayakan, karena ini menyangkut persoalan KBM. Saat ini kami masih melakukan inventarisir terhadap sejumlah lahan SD yang masih dalam sengketa,” tukasnya. (di/fa)
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya

Flexible Home Layout

Tabs

Main menu section

Featured Posts Coolbthemes

featured-video

featured-content2

featured-content2

featured-content2

Social Icons