![]() |
| Zainal Arifin |
Sumenep, News Daerah – Dokumen Lauk Pauk (LP) di internal
kantor Kementrian Agama (Kemenag) Sumenep disinyalir fiktif. Pasalnya,
pencairan dana LP tahun 2015 yang diterima oleh setiap karyawan tidak sesuai
dengan laporan yang telah diampra ke Kemenag Pusat.
Informasinya, dana LP yang diterima oleh
setiap karyawan sebesar Rp 35 ribu yang dicairkan setiap tiga bulan sekali. Jadi,
dana LP yang diterima oleh setiap karyawan setiap tiga bulan sekali sebesar Rp 2.125.000.
Hanya saja dalam realisasi anggaran tersebut tidak sesuai denegan bahkan ada
salah satu karyawan yang hanya menerima sebesar Rp 1.070.000.
”Pada
penerimaan dana LP tahun ini kami hanya menerima Rp 1.070.000. Mestinya sesuai
yang telah diampra dan yang telah ditandatangani oleh saya, dana LP yang harus
kami terima Rp 2.125.000. Ini kan suda jelas jika dokumen pencairan LP itu telah
difiktifkan,” kata salah satu staf Kemenag Sumenep Zainal Arifin.
Menrutnya, tidak hanya itu saja, pencairan
dana LP dinilai tanpa dasar yang kuat. Sebab, pencairan dana dana LP itu
mestinya dicairkan setiap bulan. Namun, selama ini dicairkan setiap tiga bulan
sekali. ”Ini lagi yang kami tidak menegrti, kenapa dana itu dicarikan setiap
tiga bulan sekali. Padahal sesuai perturan yan berlaku, dana LP dicairkan setap
bulan,” ungkapnya.
Menurut Nanang sapaan akrabnya Zainal Arifin,
peristiwa tersebut tidak hanya dialmi oleh dirinya. Bahkan, hampir semua
karyawan dibawah naungan Kemenag Sumenep, mulai dari karyawan pusat sampai
karyawan ditingkat kecamatan Kemenag Sumenep.
Salah satunya terjadi pada seorang guru yang
bertugas di wilayah kepulauan kangean. Guru tersebut mendatangai kantor Kemanag
paa hari Kamis (16/4) kemarin untuk mencairkan dana LP yang tidak dicarikan
selama enam bulan. Namuan setelah yang bersangkutan datang ke bagian keuangan,
pihak keungan hangan mencairkan dana LP selama tiga bulan. Alasan tidak dicairkan
dana tersebut dikarenakan petugas kemenag tidak mengampra selama tiga bulan.
”Sebenarnya kalau masalah pemotongannya kami
tidak begitu mempersoalkan. Tapi ada salah satu pegawai di Kemang yang jarang
masuk masih menerima LP ful selama tiga bulan. sementara yang sering masuk
masih dipotong. Ini kan aneh namanya,” ungkapnya.
Lebih lanjut Nanang mcurigai, amburadulnya
adminitrasi diinternal Kemanag Sumenep ini karnea telahterjadi konspirasi
diantara pihak keunagn dengan pimpinan kemenag.
”Kalau
melihat dari segi peristiwa yang saya alami, ini bukan hanya konspirasi.
Ini sudah masuk ranah penggelapan yang terncana,” terangnya.
Sementara Kepala Kemenag Sumenep Moh. Shodiq membantah
jika dokumen yang telah diampra dikatakan fiktif. Sebab, pemeberian LP tesebut
dilakukan secara profesional sesui dengan pertaurn yang ada. ”Kalau data yang
diampra memang lengkap semuanya. Tapi pemberian dana LP itu disesuikan dengan
daftar hadir yang ada. Karena itu meruakan salah satu bukti fisik,” katanya.
Sementara untuk kelebihan danan LP yang telah
diterima oleh Kasubag Keuangan Kemanag Sumenep, akan dikembalikan ke Kas
Negara. ”Memang saya yakin Pak Nanang orang yang rajin. Tapi mungkin dia
paginya absen, tapi sianggnya tidak apsen. Sehingga apabila dihitung selama
ini, pak Nanang tidak masuk selama 60 hari,” terangnya.
Sedangkan setiap pegawai yang tidak apsen,
tidak diperkenankan untuk menerima dana LP. ”Pokonya rata-rata pegawai disini
semuanya dipoptong sesui tingkat kehadirannya. Saya saya sebagai kepala masih
dipotong sebesar Rp 400 ribu. Itu karena kemungkinan saya lupa isi absensi,”
pungkasnya. (ND/Fa)

.jpg)