Sumenep,NewsDaerah – Belum dilakukan pemanggilan oleh
Anggota DPRD Sumenep, terhadap Petinggi Kementrian Agama (Kemenag) setempat,
ditanggapi serius. Bahkan Kemanag secara tegas mengaku akan memenuhi panggilan
tersebut.
Hanya saja sampai saat ini masih belum ada
pemanggilan. Sehingga, membuat Kemenag sendiri gerah. ”Komentarnya dewan itu
katanya akan memanggil saya. Kok sampai saat ini masih belum ada,” kata Kepala
Kemenag Sumenep Moh. Shodiq
Menurutnya, selama ini dirinya memang
menunggu surat pemanggilan. Sebab, meskipun dana Aksioma tidak dikelola oleh
kemenag, melainkan dikelola murni oleh KKM (Kelompok Kepala Madrasah), dirnya
mengaku mempunyai bebban moral untuk mempertanggungjawabkannya.
”Kami memeng selama ini menunggu adanya surat
pemanggilan itu. Kalau miesalkan jadi, ya kami akan menjelasakan semuanya.
Termasuk sisteem pengelolaan keuangan maupun pelaksanaan Aksioma itu sendiri,”
terangnya
Menurutnya, membenarkan jika sebagian dana
pelaksanaan kegitan Aksioma mengalir ke Kemenag. ”Memang ada yang mengalir ke
Kemenag, tapi bukan berupa uang melainkan seragam. Yakni baju training,”
katanya
Menurutnya, pihaknya juga akan menjelaskan
adanya duagan mengalirnya dana Aksioma ke Kantor Kemenag. Sebab selama ini yang
masuk ke kemeng sumenep bukan berbentuk uang melainkan berbentuk barang. Yakni
baju training.
Baju training itu akan dipakai saat peserta
lomba Aksioma di tingkat Provinsi Jawa Timur. ”Kan gak enak jika kasuknya ke
lapangan tidak ada seragamnya. Soalnya pas dipanggil juga dengan warna
seragamnya,” katanya
Sementara untuk pelaksaan kegiatan Aksioma
ditingkat Provinsi Jatim, untuk tingkat MTs sudah selesai dilakukan beebrap
hari yang lalu di daerah Kota Malang tepatnya di Batu. Sementara untuk tingkat
MA masih belum dilakukan menunggu giliran. ”Saat ini pelaksaan Aksioma
ditingkat kabupaten ditingkat MI (Madrasah Ibdidaiyah). Baru setelah itu juara
satunya akan dikirim ketingkat Provinsi,” terangnya.
Aksioma merupakan ajang perlombaan yang
dilakukan oleh KKM (Kelompok Kepala Madrasah) dibawah naungan Kemenag setiap
satu kali dalam dua tahun. Adapun semua pembiyaan pelaksanaan Aksioma itu
dibebankan kepada masing-masing lembaga sesuai jenjang pendidikan dibawah
naungan Kemenag.
Di Sumenep, biaya setiap jenjang pendidikan
berfariasi, tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) sebesar Rp 10 ribu persiswa
sedangkan untuk jenjang Madrasah Aliyah (MA) sebesar Rp 16 ribu persiswa. Jadi,
tanggungan setiap lembaga tidak sama sesuai jumlah siswanya.
Hanya saja adanya sumbangan yng bersifat
wajib bagi lembaga yang mau berpartispasi dan juga lembaga yang tidak
berpartisipasi itu, terus mendapatkan kritikan rajam dari sejumlah pihak.
Sebab, dana tersebut rentan hanya dijadikan bancakan untuk mempertebal kantong
pribadi saja.
Sebelumnya, Sekretaris Komisi C DPRD Sumenep
Moh. Imran mengatakan, meskipun dirinya masih belum mengetahu soal polemik yang
terjadi antara Ponpes An-nuqayah Guluk-Guluk, dengan Kemnag Sumenep, namun
dirinya mengaku sangat kecewa. Sebab, tindakan yang dilakukan oleh salah satu
oknum kemanag dinilai telah menderai institusi yang ada.
”Prinsipnya kami masih belum tahu persisi
persoalan itu, karena masih belum dapat laporan. Namun, jika benar kami sangat
menyangkan. Maknya kami akan melakukan pemanggilan nantinya,” katanya.
Menurut Imran, pemanggilan yang akan
dilakukan, itu sebagai langkah kongkrit dirinya selaku wakil rakyat di gedung
parlemen. ”Kami akan memfasilitasi persolan itu, sehingga persolan yang sedang
dialami tidak menjadi isu liar saja. Sehingga, persoaln yang sedang menyelimuti
kedunya bisa segera diselesaikan,” terangnya.
Haya saja dirinya tidak bisa mementukan hari
pemanggilan, sebab takut berbenturan dengan agenda internal Dewan. (di/fa)

