Sumenep, NewsDaerah – Acaman
pindah naungan yang dilakukan oleh pengurus Madrasah yang ada di bawah naungan
pondok pesantren (ponpes) An-nuqayah, Kecamatan Guluk-Guluk, ditanggapi positif
oleh Kepala Kementrian Agama Sumenep, Moh. Shodiq. Bahkan, dirinya selaku
pemegang tampuk kekuasaan di Kemanag Sumenep mengaku rela jika Madrasah yang
ada di bawah naungan pondok pesantren (ponpes) An-nuqayah, Kecamatan
Guluk-Guluk, keluar dari nauangan Kemanag Sumenep.
”Masalh pindah
dan tidaknya itu merupakan kewenangan pengelola madrasah, dan itu tidak menjadi
masalah pada kami. Karena kami memberikan kebebasan penuh pada pihak sekolah. Jadi,
silahkan jika Madrasah di An-nuqayah mau bernaung dibawah kemenag maupun di lembaga
yang lain,” kata Shodiq kemarin.
Sebab, lanjut
Shodiq pihaknya telah berupaya
untuk menyelesaikan persolan yang sedang terjadi
di Madrasah An-nuqayah. Salah satuanya, pihaknya telah mengutus salah satu pengawas
Madrasah Kecamatan Guluk-Guluk, untuk menanyakan kebenaran isu jika Madrasah di
An-nuqayah, mau memisahkan diri dari Kemenag.
Bahkan, jika
isu yang sedag beredar itu benar, maka pihaknya dnegan tegas menyuruh salah satu
pengawas yang merupakan kepanjangan tangan dari Kemenag Sumenep, untuk segera mencabut
piagam Madrasah, dan meminta surat pernyataan memisahkan diri.
Pencabutan surat
ijin operasional itu dilakukan untuk memperjelas status sekolah An-Nuqyah. Selain
itu, untuk menghindari double anggaran, utamanya saat adanya bantuan dari pemerintah,
speerti danan BOS dan sejumlah bantuan yang lain dicaikran. ”Jika memang benar
mau memisahkan diri dari kemaneg, kami intruksikan agar piagam sekolahnya
diserahkan,” terangnya
Ditanya soal
penarikan sumbangan untuk kegiatan Ajang Kompetensi Seni dan Olahraga Madrasah
(Aksioma), sebesar Rp 10.000 persiswa Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan RP 16.000
persiswa siswa Madrasah Aliyah (MA). Pihak Kemenag membenarkan masalah itu, dan
sumbangan serta kegiatan Aksioma, merupakan kegiatan rutin dua tahunan yang
digelar kantor wilayah (Kanwil) Jawa Timur, dan pihak Kemenag harus
berpatisipasi dalam acara tersebut, serta mengirimkan utusannya.
Dikatakan, pada
kegiatan Aksioma 2015 di Tuban, Kemenag Sumenep mengirim 90 peserta dari
tingkat MTs dan MA, selain itu Kemenag juga menyertakan pendamping atau
official ke acara tersebut, sehingga biyanya membengkak dan dimintakan
sumbangan pada Madrasah dibawah naungannya, meski tidak mengirimkan utusan.
Masing-masing lembaga Madrasah dibawah naungan Kemenag Sumenep, harus
mengirimkan utusannya maksimal 3 orang siswa, namun utusan dari ratusan
Madrasah, masih diseleksi sebelum dikirim ke Jawa Timur.
Karena
sumbangan untuk kegiatan Aksioma terlalu besar, yakni Rp 10.000 persiswa MTs
dan Rp 16.000 persiswa MA, Madrasah An-nuqayah tidak berpartisipasi dalam
kegiatan tersebut, dan mengirimkan surat keberatan pada Kemenag Sumenep. Dalam
surat keberatan dengan Nomor surat 31/P3A/IV/1436 tertanggal 14 Februari 2015,
yang ditanda tangani Ketua Biro Madaris, K. Moh. Naqib Hasan, dan K.M. Ainul
Yaqin, Madrasah An-nuqayah diperintahkan untuk tetap berkonsentrasi dalam
pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM), dan melakukan pembenahan
adminitrasi madrasah.
Namun
surat keberatan tersebut tidak di indahkan, dan Kepala MTs I An-nuqayah, yakni
K. Farid Hasan, selalu ditagih uang sumbangan Aksioma Rp 10.000 persiswa
MTs, dan Rp 16.000 persiswa MA oleh Ketua Kelompok Kerja Madrasah (KKM).
Sehingga pihaknya merasa risih dan berniat memisahkan diri Kemenag.
Tragisnya,
pihak Kemenag Sumenep menanggapi serius pernyataan Kepala MTs I An-nuqayah, dan
menyruh pengawas madrasah Kecamatan Guluk-Guluk, menarik piagam yang dimiliki
Madrasah An-nuqayah. Padahal Kemenag belum pernah berkordinasi, dan tidak
pernah memberikan masukan terkait masalah yang sedang dihadapi Madrasah
An-nuqayah, tiba-tiba saja pihak kemenag mau mencabut piagam milik Madrasah
An-nuqayah.
Akibatnya
persoalan tersebut semakin meruncing, dan semakin memanaskan suasana, pengelola
Madrasah dipesantren An-nuqayah marah dengan sikap tidak mendidik Kemenag
Sumenep. ”Ini sangat tidak logis, kok tiba-tiba pihak kemenag mau main
serobot piagam madrasah, padahal sebelumnya tidak pernah kordinasi dengan kami,
ini benar-benar tidak beres,” sesal Kepala MTs I An-nuqayah K.Farid Hasan.
Seharusnya,
pihak kemenag tidak terburu-buru mau mencabut piagam milik madrasah, melainkan
pihak kemenag harus tahu permasalahan yang sedang dihadapi lembaga dibawah
sehingga mau memisahkan diri. Baru setelah diketahui akar masalahnya,
kemenag mencarikan jalan keluar untuk pemecahannya, tapi jika memang tidak
ditemukan jalan keluar, maka tidak masalah mencabut piagam milik madrasah.
”Kalau seperti
ini kan tidak mendidik namanya, padahal masih banyak waktu dan kesempatan untuk
menemukan solusi,”pungkasnya.
Sementara Ketua
Kelompok Kerja Madrasah (KKM) Hairuddin, belum bisa dimintai keterangan,
pihaknya mengaku masih berada di Kabupaten Pamekasan. ”Saya masih ada di
Pamekasan pak, jika ingin menanyakan masalah sumbangan Aksioma, serta jumlah
MTs plus jumlah siswanya, kita ketemu besok saja,” katanya saat dihubungi
melalui telepon selulernya oleh wartawan kemarin. (di/fa)
Rencana Keuangan Aksioma MA Tahun 2015
diperkirakan meghabiskan dana
sebesar Rp 224.599.462.50
dengan rincian
a.
Untuk seleksai ditingkat kabupaten
Dana kesekretariatan Rp 18.362.750.00
Danan Perlengkapan Rp 825.000.00
Dana Dukumentasi Rp 2.400.000.00
Danan Konsumsi Rp 8.600.000.00
Danan Honorarium Rp 36.850.000.00
Dana lainnya Seperti pembenahan lapangan dll Rp
21..275.000.00
b.
Pembinaan
Honor transport pembina Rp 12.570.000.00
c.
Pelaksanaan
Dana Transportasi, Konsumsi, Uang Saku,
Seragam Kontingen, lain-Lain, dan dana saat perlombaan digelar Rp
112.457.500.00
Dana cadangan 5 persen dari jumlah Rp
10.695.212.00

.jpg)