» » IAA Ancam Boikot Kemenag, Jika An-Nuqayah Hengkang dari Kemenag

IAA Ancam Boikot Kemenag, Jika An-Nuqayah Hengkang dari Kemenag

Penulis By on Senin, 30 Maret 2015 |



Sumenep, NewsDaerah – Meskipun Kementrian Agaman (Kemenag) Sumenp, menyatakan selesai permasalahan dengan pihak Pondok Pesanren An-Nuqayah, Kecamatan Guluk-Guluk, namun kasus tersebut masih belum sepenuhnya tuntas. Pasalnya, kasus yang menimpa salah satu pondok pesantren terkemuka di Madura tersebut, terus memdapat perhatian serius dari Ikatan Alumni An-Nuqayah (IAA).
Bahkan jika An-Nuqayah hengkan dari Kemenag, IAA mengancam akan memboikot Kemenag. ”Saya merasa kesal dengan sikap Kemenag Sumenep, yang sampai memperbolehkan An-Nuqayah pindah naungan. Jika itu terjadi, kami juga akan pindah naungan ke instansi yang lain,” kata Ketua IAA Pusat Mawardi.
IAA merupakan salah satu organisi yang didirikan untuk mempererat hubungan antar alumni pondok pesantren An-Nuqayah Guluk-Guluk. Keberadaan organisasi IAA ini telah tersebar di berbagai daerah se Indonesia. Bahkan, mayoritas anggota IAA
juga sebagai pengelola sekolah, baik dibawah naungan Kemenag, maupun naungan diluar Kemenag.
Menurut Mawardi, kekesalan itu muncul akibat dari pernyataan kepala Kemenag Sumenep Moh. Shodiq memperbolehkan An-Nuqayah hengkang dari Kemenag, yang diakibatkan An-Nuqayah tidak mau membayar kebutuhan pelaksanaan Ajang Kompetensi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma).
Menurtunya, tindakan tersebut dinilai telah berlebihan. Sebab, tindakan pihak An-Nuqayah bukan tanpa dasar yang kuat. Melainkan, sikap tersbut muncul karena pengelolaan anggran Aksioma selama ini dinilai tidak transparan.
”Mestinya Kemenag sebelum mengeluarkan pernyataan seperti itu, terlebih dahulu memberikan pembinaan. Bukan langsung merelakan pindah naungan. Apalagi pengelolaan anggaran unutk Aksioma selama ini tidak transparan,” kata Mawardi yang juga sebagai pengasuh pondok pesantren di Kabupaten Sumenep itu.
Bahkan selama ini dirinya juga mengaku tidak mengetahui soal pengelolaan dana Aksioma tersebut. Sebab, meskipun dirinya juga mengelola lembga yang berada dibawah naungan Kemenag, namun selama ini dirinya mengaku tidak pernah dilibatkan dalam musyawarah pelaksanaan Aksioma, baik pelaksanaan Aksioma ditingkat Kabupaten maupun pelaksanaan Aksioma ditingkat Provinsi.
Aksioma merupakan agenda dua tahunan yang dilaksanakan oleh KKM (Kelompok Kepala Madrasah) pusat yang dilegasikan ke KKM dibawah naungan Kemenag di setiap kota atau kabupaten.
”Kami yakin, jika kemenag memnyikapi dnegan kepala dingin, dan ada ketransparanan pelaksanaan Aksioma, pasti gejolak itu tidak akan terjadi,” ungkapnya.
Terpisah Kepala Kemenag Sumenep, H Moh Shodik mengaakan, jika polemik antara Kemenag dan Pondok Pesantren An-Nuqayah Guluk-Guluk sudah selesai. Hal itu setelah kedua belah pihak yang berseteru yakni pihak Madaris Ponpes An-uqayah Guluk-Guluk dengan Kelompok Kerja Madrasah (KKM) bertemu yang difasilitasi Kepala Kementerian Agama Sumenep, H Moh Shadik, Senin (9/3) lalu. Kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri polemik sumbangan untuk kegiatan Aksioma dan madrasah An-Nuqayah tetap berada dibawah naungan Kemenag Sumenep.
Dikatakan, dalam mediasi tersebut, pihak pesantren An-Nuqayah memahami dan menerima pemahaman dari Kemenag Sumenep. Apalagi ternyata, munculnya keberatan terhadap sumbangan untuk Aksioma berasal dari Kepala Sekolah MTs I An-Nuqayah yang baru menjabat tiga bulan yang lalu. Sehingga kasek baru tidak tahu bilamana ada kesepakatan antar kepala sekolah sebelumnya terhadap kegiatan Aksioma tersebut.
”Setelah kami duduk bersama dengan pengurus pesantren An-nuqayah, dan menjalaskan duduk persolannya, akhirnya Pesantren An-Nuqayah menyadari kerjasama dengan KKM dan tetap berada dibawah naungan Kemenag,” ungkapnya.
Pihaknya berharap ke belakang tidak ada lagi kesalahpahaman antara pihak madsarah dengan KKM, karena hanya akan merugikan kedua belah pihak baik antara Madrasah An-Nuqayah dengan KKM dan bahkan dengan Kemenag Sumenep.
Untuk diketahui, mencuatnya rencana sejumlah madrasah dibawah naungan Ponpes An-Nuqayah, Guluk-Guluk, yang akan hengkang dari Kemenag Sumenep, setelah madrasah di pondok terbesar di Sumenep itu merasa ditekan membayar uang sumbangan untuk kegiatan Aksioma. Masing-masing siswa MTs, Rp 10 ribu dan untuk siswa MA, diharuskan membayar sumbangan Rp 16 ribu. (di/fa)
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya

Flexible Home Layout

Tabs

Main menu section

Featured Posts Coolbthemes

featured-video

featured-content2

featured-content2

featured-content2

Social Icons