Sumenep, NewsDaerah – Meskipun Kementrian
Agaman (Kemenag) Sumenp, menyatakan selesai permasalahan dengan pihak Pondok
Pesanren An-Nuqayah, Kecamatan Guluk-Guluk, namun kasus tersebut masih belum
sepenuhnya tuntas. Pasalnya, kasus yang menimpa salah satu pondok pesantren terkemuka
di Madura tersebut, terus memdapat perhatian serius dari Ikatan Alumni
An-Nuqayah (IAA).
Bahkan jika An-Nuqayah hengkan dari Kemenag,
IAA mengancam akan memboikot Kemenag. ”Saya merasa kesal dengan sikap Kemenag
Sumenep, yang sampai memperbolehkan An-Nuqayah pindah naungan. Jika itu
terjadi, kami juga akan pindah naungan ke instansi yang lain,” kata Ketua IAA
Pusat Mawardi.
IAA merupakan salah satu organisi yang
didirikan untuk mempererat hubungan antar alumni pondok pesantren An-Nuqayah
Guluk-Guluk. Keberadaan organisasi IAA ini telah tersebar di berbagai daerah se
Indonesia. Bahkan, mayoritas anggota IAA
juga sebagai pengelola sekolah, baik
dibawah naungan Kemenag, maupun naungan diluar Kemenag.
Menurut Mawardi, kekesalan itu muncul akibat
dari pernyataan kepala Kemenag Sumenep Moh. Shodiq memperbolehkan An-Nuqayah
hengkang dari Kemenag, yang diakibatkan An-Nuqayah tidak mau membayar kebutuhan
pelaksanaan Ajang Kompetensi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma).
Menurtunya, tindakan tersebut dinilai telah
berlebihan. Sebab, tindakan pihak An-Nuqayah bukan tanpa dasar yang kuat.
Melainkan, sikap tersbut muncul karena pengelolaan anggran Aksioma selama ini dinilai
tidak transparan.
”Mestinya Kemenag sebelum mengeluarkan
pernyataan seperti itu, terlebih dahulu memberikan pembinaan. Bukan langsung
merelakan pindah naungan. Apalagi pengelolaan anggaran unutk Aksioma selama ini
tidak transparan,” kata Mawardi yang juga sebagai pengasuh pondok pesantren di
Kabupaten Sumenep itu.
Bahkan selama ini dirinya juga mengaku tidak
mengetahui soal pengelolaan dana Aksioma tersebut. Sebab, meskipun dirinya juga
mengelola lembga yang berada dibawah naungan Kemenag, namun selama ini dirinya
mengaku tidak pernah dilibatkan dalam musyawarah pelaksanaan Aksioma, baik
pelaksanaan Aksioma ditingkat Kabupaten maupun pelaksanaan Aksioma ditingkat
Provinsi.
Aksioma merupakan agenda dua tahunan yang
dilaksanakan oleh KKM (Kelompok Kepala Madrasah) pusat yang dilegasikan ke KKM
dibawah naungan Kemenag di setiap kota atau kabupaten.
”Kami yakin, jika kemenag memnyikapi dnegan
kepala dingin, dan ada ketransparanan pelaksanaan Aksioma, pasti gejolak itu
tidak akan terjadi,” ungkapnya.
Terpisah Kepala Kemenag Sumenep, H Moh Shodik
mengaakan, jika polemik antara Kemenag dan Pondok Pesantren An-Nuqayah
Guluk-Guluk sudah selesai. Hal itu setelah kedua belah pihak yang berseteru
yakni pihak Madaris Ponpes An-uqayah Guluk-Guluk dengan Kelompok Kerja Madrasah
(KKM) bertemu yang difasilitasi Kepala Kementerian Agama Sumenep, H Moh Shadik,
Senin (9/3) lalu. Kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri polemik sumbangan
untuk kegiatan Aksioma dan madrasah An-Nuqayah tetap berada dibawah naungan
Kemenag Sumenep.
Dikatakan, dalam mediasi tersebut, pihak
pesantren An-Nuqayah memahami dan menerima pemahaman dari Kemenag Sumenep.
Apalagi ternyata, munculnya keberatan terhadap sumbangan untuk Aksioma berasal
dari Kepala Sekolah MTs I An-Nuqayah yang baru menjabat tiga bulan yang lalu.
Sehingga kasek baru tidak tahu bilamana ada kesepakatan antar kepala sekolah
sebelumnya terhadap kegiatan Aksioma tersebut.
”Setelah kami duduk bersama dengan pengurus
pesantren An-nuqayah, dan menjalaskan duduk persolannya, akhirnya Pesantren
An-Nuqayah menyadari kerjasama dengan KKM dan tetap berada dibawah naungan
Kemenag,” ungkapnya.
Pihaknya berharap ke belakang tidak ada lagi
kesalahpahaman antara pihak madsarah dengan KKM, karena hanya akan merugikan
kedua belah pihak baik antara Madrasah An-Nuqayah dengan KKM dan bahkan dengan Kemenag
Sumenep.
Untuk diketahui, mencuatnya rencana sejumlah
madrasah dibawah naungan Ponpes An-Nuqayah, Guluk-Guluk, yang akan hengkang
dari Kemenag Sumenep, setelah madrasah di pondok terbesar di Sumenep itu merasa
ditekan membayar uang sumbangan untuk kegiatan Aksioma. Masing-masing siswa
MTs, Rp 10 ribu dan untuk siswa MA, diharuskan membayar sumbangan Rp 16 ribu. (di/fa)

