
SUMENEP – Polemik yang terjadi antara Pondok
Pesantren An-Nuqayah, Kecamtan Guluk-Guluk dengan Kementrian Agama (Kemenag)
Sumenep, mendapat sorotan tajam dari kalangan anggota DPRD Setempat. Bahkan,
Komisi D DPRD Sumenep, dalam waktu dekat akan memanggilan petinggi Kemenag.
Sekretaris Komisi C DPRD Sumenep Moh. Imran
mengatakan, meskipun dirinya masih belum mengetahu soal polemik yang terjadi
antara Ponpes An-nuqayah Guluk-Guluk, dengan Kemnag Sumenep, namun dirinya
mengaku sangat kecewa. Sebab, tindakan yang dilakukan oleh salah satu oknum
kemanag dinilai telah menderai institusi yang ada.
”Prinsipnya kami masih belum tahu persisi
persoalan itu,
karena masih belum dapat laporan. Namun, jika benar kami sangat
menyangkan. Maknya kami akan melakukan pemanggilan nantinya,” katanya.
Menurut Imran, pemanggilan yang akan
dilakukan, itu sebagai langkah kongkrit dirinya selaku wakil rakyat di gedung
parlemen. ”Kami akan memfasilitasi persolan itu, sehingga persolan yang sedang
dialami tidak menjadi isu liar saja. Sehingga, persoaln yang sedang menyelimuti
kedunya bisa segera diselesaikan,” terangnya
Polemik anatara Ponpes An-Nugayah Guluk-Guluk dengan
Kemeng Sumenep terjadi disebabkan karena lembaga yang berada di bawah naungan
Ponpes An-Nugayah Guluk-Guluk, ditingkat Madrasah Aliyah dan sebagian Madrasah
Tsanawiyah (MTs) menulak untuk membayar iuran dalam pelaksaan Ajang Kompetensi Seni dan Olahraga Madrasah
(Aksioma) tahun 2015.
Iuran yang diminta oleh pihak kemang sumenep
berfariasi, untuk lembaga pendidikan jenjang MTs dimitnai iuran sebesar Rp 10.000 persiswa, sedangkan untuk MA dimintai iuran
sebesar Rp RP 16.000 persiswa. Sementara kegiatan Aksioma itu merupakan
kegiatan rutin dua tahunan yang digelar kantor wilayah (Kanwil) Jawa Timur.
Setiap Kemenag harus berpatisipasi dalam acara tersebut, serta mengirimkan
utusannya di Kabupaten Tuban.
Sayangnya penarikan sumebangan yang dilakukan oleh
pihak kemang dinilai sangat memberatkan, karnea penarikan iuran bersifat wajib
meskipun lemabaga swasta binaan kemang tidak mengirmim siswa terbaikanya dalam
mompetisi perlombaan Aksioma tersebut.
”Kami kita kalau ini benar, wajarlah kalau lemabaga
merasa keberatan. Karena tidak semestinya sumbangan itu diminta terhadap semua
siswa. Kalau yang ikut perlombaan itu kan wajar,” terangnya.
Infromsinya pada acara tersebut Kemanag Sumenep akan
mengutus sebanyak 90 siswa batik ditingkat MTs maupun siswa ditingkat MA. Hanya
saja sebelum didelegasikan ketingkat Jawa Timur, sejumlah pesrta dari berbagai
sekoilah akan dilakukan seleksi di tingkat Kabupaten.
Sementara setiap lembaga yang akan mengikut sertakan
ditingkat kabupaten hanya diperbolehkan mengutus siswa terbaikanya sebanyak
tiga orang.
”Ini kan sama halnya penekanan. Masak kalau tidak mau
ikut masih dimintai sumbangan. Ini kan tidak rasional,” ungkapnya.
Akibatr persolan itu membuat salah satu ponpes
terkemuka di pulau madura itu, berencana henkang dari naungan kemenag sumenep.
Bahkan, salah satu pengelola MTs mengaku sudah tidak kerasan berada dinaungan
Kemenag.
Sementara Kepala Kemanag Sumenep Moh. Shodiq dirinya
selaku pemegang tampuk kekuasaan di Kemanag Sumenep mengaku rela jika Madrasah
yang ada di bawah naungan pondok pesantren (ponpes) An-nuqayah, Kecamatan
Guluk-Guluk, keluar dari nauangan Kemanag Sumenep.
”Masalh pindah dan tidaknya itu merupakan kewenangan
pengelola madrasah, dan itu tidak menjadi masalah pada kami. Karena kami memberikan
kebebasan penuh pada pihak sekolah. Jadi, silahkan jika Madrasah di An-nuqayah
mau bernaung dibawah kemenag maupun di lembaga yang lain,” kata Shodiq kemarin.
Sebab, lanjut Shodiq pihaknya telah berupaya untuk
menyelesaikan persolan yang sedang terjadi di Madrasah An-nuqayah. Salah
satuanya, pihaknya telah mengutus salah satu pengawas Madrasah Kecamatan
Guluk-Guluk, untuk menanyakan kebenaran isu jika Madrasah di An-nuqayah, mau
memisahkan diri dari Kemenag. ”Jika memang benar mau memisahkan diri dari
kemaneg, kami intruksikan agar piagam sekolahnya diserahkan,” terangnya (di/fa)
