» » Cos Politik Pilkada Sumenep Mahal, Diprediksi Setiap Calon Harus Punya Modal Rp 25 M

Cos Politik Pilkada Sumenep Mahal, Diprediksi Setiap Calon Harus Punya Modal Rp 25 M

Penulis By on Rabu, 11 Maret 2015 |



Sumenep, NewsDaerah – BiayaUntuk menuju kursi jabatan nomor satu di Kabupaten Sumenep, tidaklah mudah sebagaimana membalikkan telapak tangan. Bahkan, untuk maju dalam kontestasn pesta demokrasi ditingkat daerah yang direncanakan akan dilakukan akhir tahun 2015 mendatang, setiap calon harus mempersiapkan mintalitas yang tinggi.
Pasalnya untuk maju menjadi kandidat menuju M 1 selain mempersiapkan mental yang tinggi, juga harus mempunya mudal yang bear. Bahkan, sebagian pengamat meprediksi cos pilkada lebih tinggi dibandingkan pada pelaksanaan ilkada tahun 2010 lalu.
Hal itu disebabkan berubahnya sifat dan prilaku, serta berubahnya pemahaman arti demokrasi dikalangan masyarakat yang berubah menjadi
ajang untuk mencari keuntungan, bukanlah demokrasi diartikan sebagai langkah konkrit untuk memilih figur seoarang pemimpin yang ideal.
”Kalau pada pelaksanaan pilkada sebelumnya dengan biaya Rp 2 Miliar sudah dianggap cukup, tapi kalau pelaksanaan pilkada tahun ini dipastikan tidak cukup. Bahkan, setiap calon minimalnya harus menyediakan cos sampai Rp 25 miliar,” kata salah satu Pengamat Sosial dan Politik asal Kabupaten Sumenep, Hasan basri.
Berubahnya cos politik itu, dilihat dari perubahan prilaku sosial kemasyarakatan yang saat ini condong bersifat pragmatis. Padahal, menurutnya tindakan semcam itu dinilai sangat merugikan atas pribadi seseorang. Selain itu juga menghamabat terhadap kemajuag suata daerah.  Sebab, bisa dipatikan orang yang terpilih menjadi pemimpin bukan orang yang mempunyai integritas yang tinggi dan moral yang baik, melainkan oraang yang mempunyai kekuatan finasial yang tinggi.
Dicontohkan, pada saat pelaksanaan pemilihan umum (Pemilu) tahun 1999, semua warga menganggap politik sebagai salah satu perjuangan untuk memilih figur sebagai pemimpin. Namun, sifat tersebut berbeda pada pelaksanaan pemilu tahun 2004 yang notabenya masyarakat mengartikan politik sebagai salah satu media untuk mencari keuntungan.
”Kalau politik tahun 1999 itu masih murni mencari pemimpin, makanya kia sangat disegani. Tapi pada tahun 2004 masyarkat suah banyak yang bertanya, kiai seperti apa yang harus dipilih. Baru pada pelaksaan pileg tahun 2014 lalu masyarakat sudah bersifat pragmatis. Makanya banyak dari kalangan mantan kepala desa yang menajadi anggota dewan dibandingkan kiai maupun aktifis,” terang dosen ilmu politik di Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep itu.
Padahal prilaku sosial seperti itu diakui sangatlah tidak baik untuk dipertahankan. Sebab, akiba prilaku yang dinilai buruk itu dinilai telah mencederai proses demokrasi yang sesungguhnya.  Sebab, adanya plihan itu merupakan ionstrumen bagi warga untuk menjaring seorang figur yang baik sebagai pemimpin.
Selain itu, juga mengakibatkan terjadinya krisis pemimpin yang baik. ”Kalau budaya itu masih dipertahankan, sangat tidak mungkin bisa mencari pemimpin yang bagus,” ungkapnya.
Berubahnya prilaku sosial itu banyak masyarakat yang menilai disebabkan adanya perubahan prilaku dari seoarang pemimpin itu sendiri. ”Sebenarkan kanya sangat mengnginkan adanya pemimpin yang baik, dan bisa membawa perubahan. Tapi terkadang setelah jadi pemimpin, malah banyak yang lupa terhadap warganya,” kata salah satu tokoh masyarakat Kecamatan Ganding Zaenuri.
Kondisi seperti itu menyebabkan banyaknya masyarakat yang salah mengartikan pilkada. ”Setelah saya ngomong-ngomong dengan msyarakat memang begitu. Bahkan, ada sebagian warga yang tidak mau menyalurkan hak plihanya jika tidak ada sesuatu yang diberikan,” ungkapnya.
Untuk diketahui, Masa jabatan A Busyro Karim-Soengkono Sidik sebagai Bupati-Wakil Bupati Sumenep periode 2010-2015 yang merupakan hasil pilkada langsung setempat pada 2010, akan berakhir pada Oktober 2015.
Saat ini, sejumlah nama yang disebut-sebut akan maju sebagai kandidat Pilkada Sumenep, di antaranya Soengkono Sidik, Moh Sahnan, dan Zainal Abidin, Akhmad Fauzi, mulai memperlihatkan gerakannya, di antaranya dengan melakukan komunikasi dengan pengurus sejumlah parpol setempat. (di/fa)
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya

Flexible Home Layout

Tabs

Main menu section

Featured Posts Coolbthemes

featured-video

featured-content2

featured-content2

featured-content2

Social Icons