Sumenep, NewsDaerah – Polemik diantara Pondok Pesantren
An-Nuqayah, Guluk-Guluk, dengan Kementerian Agama (Kemenag) Sumenep, karena
merasa ditekan membayar sumbangan untuk kebutuhan Ajang Kompetensi Seni dan
Olahraga Madrasah (Aksioma), akhirnya terseelsaikan. Bahkan sejumlah madrasah
dibawah naungan Pondok Pesantren An-Nuqayah, Guluk-Guluk, gagal untuk
memisahkan diri dari kemenag.
Gagalnya rencan memisahkan diri itu, setelah kedua
belah pihak yang berseteru yakni pihak Madaris Ponpes An-uqayah Guluk-Guluk
dengan Kelompok Kerja Madrasah (KKM) bertemu yang difasilitasi Kepala
Kementerian
Agama Sumenep, H Moh Shadik, Senin (9/3) lalu. Kedua belah pihak
sepakat untuk mengakhiri polemik sumbangan untuk kegiatan Aksioma dan madrasah
An-Nuqayah tetap berada dibawah naungan Kemenag Sumenep.
Kepala Kementerian Agama Sumenep, H Moh Shodiq
mengakatakn pokok persoalan yang terjadi soal penarikan acara Aksioma merupakan
persolan antara madrasah Ponpes An-Nuqayah Guluk-Guluk dengan KKM, bukan dengan
pihak kemang sumenep. ”Namun akhirnya justru berkembang dan menyeret
kementerian agama secara kelembangaan. Dan berbuntut rencana madrasah di
An-Nuqayah keluar dari naungan Kemenag,” katanya.
Hanya saja meskipun yang menarik sumbangan
Aksioma bukan Kemenag, melainkan KKM, tapi karena persolannya sudah merembet ke
Kemenag, namun pihak kemenag dinilai perlu untuk melakukan mediasi. Sehingga
persoalan yang sedang tejradi bisa segera diselesaikan. ”Makanya kami kami
turun tangan,” ungkapnya.
Menurutnya, dalam mediasi tersebut, pihak
pesantren An-Nuqayah memahami dan menerima pemahaman dari Kemenag Sumenep. ”Setelah
kami duduk bersama dengan pengurus pesantren An-nuqayah, dan menjalaskan duduk
persolannya, akhirnya Pesantren An-Nuqayah menyadari kerjasama dengan KKM dan
tetap berada dibawah naungan Kemenag,” ungkapnya.
Apalagi munculnya keberatan terhadap
sumbangan untuk Aksioma berasal dari Kepala Sekolah Mts I An-Nuqayah yang baru
menjabat tiga bulan yang lalu. Sehingga kasek baru tidak tahu bilamana ada
kesepakatan antar kepala sekolah sebelumnya terhadap kegiatan Aksioma tersebut.
”Kami harap ini tidak berbuntut panjang, dan tidak sampai ada istilah
memisahkan diri. Karena kalau itu terjadi, akan merugikan kedua belah pihak,”
katanya
Pengurus Pesantren An-Nuqayah bagian
Kepesantrenan A Naqib Hasan, membenarkan perihal tersebut, dan pihaknya bersama
pengurus pesantren yang lain, sepakat untuk tidak pindah naungan. ”Memang
benar, Kepala Kemenag Sumenep datang ke sini, mereka menjelaskan persoalan dan
menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya. Setelah itu, kami pengurus Ponpes
An-Nuqayah, sepakat tetap berada dibawah naungan Kemenag,” ungkapnya.
Untuk diketahui, sejumlah madrasah dibawah
naungan Ponpes An-Nuqayah, Guluk-Guluk, mengancam akan pisah dari naungan kemang. Itu disebabkan, madrasah
di pondok terbesar di Sumenep itu merasa ditekan membayar uang sumbangan untuk
kegiatan Aksioma.
Adapun sumbangan yang harus dibayar
masing-masing siswa MTs Rp 10 ribu dan Rp 16 ribu untuk tingkat MA. (di/fa)

