» » Anggaran Aksioma Dinilai Tak Rasional

Anggaran Aksioma Dinilai Tak Rasional

Penulis By on Senin, 16 Maret 2015 |


Sumenep,NewsDaerah - Meskipun polemik antara Pondok Pesantren An-Nuqayah, Kecamatan Guluk-Guluk, dengan Kementrian Agama (Kemenag) Sumenep, telah menemukan titik terang, namun perosalan pelaksanaan Ajang Kompetensi (Aksioma) terus dipersoalkan.
Pasalnya, diantara hasil sumbangan yang dibayar oleh sekolah dibawah naungan Kemenag dari tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) dengan taksasi anggaran pelaksanaan Aksioma dinilai tidak rasional, yakni lebih besar hasil sumbangan. Sehingga, pelaksanaan Aksioma berpotensi besar dijadikan ajang pesugihan untuk mempertebal kantong pribadi salah satu oknum yang tidak bertanggungjawab.
"Bisa saja hal itu terjadi. Karena dilihat dari besaran
sumbangan yang didapat dengan kebutuhannya, ada ketimpangan atau ketidak kesesuaian," kata Kordinataor Jatim Koruption Watch (JCW) Abd. Rahman.
Sesuai rencana keuangan pepaksaan aksioma tahun 2015 ditingkat MA diperkirakan membutuhkan anggaran sebesar Rp 224.599.462. Rinciannya, untuk selesi ditingkat kabupaten yang meliputi dana kesekretariatan, perlebgkapan, Dokumentasi, Konsumsi, Honorarium, dan perlengkapan yang lain mencapai Rp.88.876.750.
Selain itu dana untuk pembinaan mulai dana transportasi pembina disetiap perlombaan yang dilakukan 1 kali selama 10 minggu Rp 12.570.000. Selain itu ditambah dana pelaksanaan selama lima hari mulai tanggal 7-11 Mei 2015, mulai dari dana transportasi, konsumsi, uang saku, seragam kontingen, dana kebutuhan saat pelaksaan lomba dan sejumlah dana transportasi lain mencapi Tp 112.457.500.
Anggaran tersebut ditambah anggaran tak terduga atau cadangan sebanyak 5 persen dari jumah anggaran, yakni mencapai Rp 10.695.212. "Dari sini kita sudah bisa membandingkan. Untuk dua jenang saja, yakni MTs dan MA yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren An-Nuqayah sudah mencapai Rp 22.344.000, itu belum lembaga binaan Kemenag yang lain. Kami punya keyakinan hasil sumbangannya bisa membengkak,," terang Rahman.
Pondok Pesantren An-Nuqayah adalah salah satu Pondok Pesantren terbesar yang berada di Kecamatan Guluk-Gukuk. Pondok Pesantren An-Nuqayah membawahi banyak lembaga, mulai dari Madrasah Ibdidaiyah (MI) samapai MA yang jumlah siswanya mencapai ribuan siswa. Yakni untuk siswa MTs dan MA mencapai 3.780 siswa, rinciannya MTs I Putra 690 siwa, MTs I Putri 900 siswa, MTs II Putra 50 siswa, MTs III Putri 300 siswa. Sedangkan untuk MA I Putra sebanyak 500 siswa MA I Putri 1.100 siswa, MA II 90 siswa dan Madarsar Aliyah Tahfidz sebabyka 150 siswa.
"Ada yang mengganjal dalam taksasi anggaran, dalan poin dukumentasi masi terdapat catatan pembelian Foto 3 Rool Film + Cetak sebesar Rp 750 ribu. Padahal saat ini sudah zaman digital, sehingga tidak usah beli rol film lagi. Jadi, kecurigaan kami semakin menguat jika acara aksioma hanya dijadikan bahan bancaan saja," katanya dengan penuh curiga.
Aksioma merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh Kemenag disetiap kabupaten/kota, pelaksaan itu dimaksudkan sebagai salah satu cara untuk menjaring atlit yang profesional. Kegiatan tersebut dilaksanakan setiap dua tahun satu kali. Sedangkan penyelenggara kegiatan tetsebut adalah KKM (Kelompok Kepala Madrasah).
Semua pembiayaan pelaksanaan Aksioma dibebankan kepada madrasah dengan cara dimintai sumbangan sesuai jumlah siswanya. Sumbangan yang bersifat wajib itu berfariasi, jika tingkat MTs Rp 10 ribu persiswa untuk jenjang MA Rp 16 ribu persiswa. Sumbangan tersebut berlaku bagi semua lembaga, baik yang akan berpartisipasi atau lembaga yang tidak mengirimkan siswa terbaiknya dalam acara Aksioma.
"Yang tidak habis fikir lagi, anggaran Aksioma di Sumenep sangat mahal dibandingkan di kabupaten lain. Informasinya, di Pamekasan setiap lembaga hanya dimintai sumbangan untuk MTs Rp 7 ribu dan MA Rp 10 ribu persiswa," ungkapnya.
Kepada Kemenag Suemenep Moh. Shodiq tekersan lepas tangan terkati anggaran pelaksaan Aksioma. Sebab, penganggaran pelaksanaan kegiatan Aksioma dirinya masih belum menjabat sebagai kepala Kemenag. ”Kegitan Aksioma itu kan merupakan kegitan dua tahunanan. Jadi, saya kurang begitu tahu soalnya saya masih belum menjabat sebagai kepala. Namun kemungkinan besar untuk seluruh madura anggrannya itu pasti sama,” katanya
Selain itu, lanjut Shodiq anggaran pelaksaan Aksioma telah dimusyawarahkan oleh KKM Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota. Sehingga, pembiyaan pelaksanaan Aksioma itu ditanggung bersama oleh pengelola sekolah. ”Jadi, sangat tidak mungkin kalau anggran itu dikatakan tidak rasional,” pungkasnya. (di/fa
)
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya

Flexible Home Layout

Tabs

Main menu section

Featured Posts Coolbthemes

featured-video

featured-content2

featured-content2

featured-content2

Social Icons