Sumenep, NewsDaerah
– Ajang Kompetensi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma) tahun 2015 yang digelar
mengatasnamakan Kementrian Agama (Kemenag) Sumenep, ditengarai serat permainan.
Buktinya, semua sekolah ditingkat MTs (Madrasah Tsanawiyah) dan Madrasah Aliyah
(MA) yang berada dibawah naungan kemenag diwajibkan membayar sumbangan meskipun
lembaga yang bersangkutan tidak mendelegasikan siswa terbaiknya dalam ajang
perlombaan tersebut.
Informasinya,
dari hasil sumbangan tang telah didapat dari semua lembaga binaan Kemenag itu
nantinya akan dijadikan biaya operasional perlombaan Aksioma. Adapun besaran
sumbangan yang diminta disesuaiian dengan tingkatan lembaga masing-masing. Jika
MTs diwajibkan membayar Rp 10 ribu setiap siswa, srdangkan tingkat MA
diwajibkan membayar Rp 16 ribu setiap siswa.
Kondisi
seperti itu membuat pengelola madrasah resah.
Bahkan banyak pembaga dibawah
naungan Kemenag yang mengeluh lantaran selalu mendapat tekanan setiap kali ada
acara. Salah satunya sekolah swasta An-Nuqayah Guluk-Guluk. Bahkan, lembaga
swasta ternama di Kabupaten Sumenep, mengancam akan hengkang dari kemenag.
"Kami
memang sudah tidak kerasan berada dibawah naungan kemenag, karena kami
selalu dibebani sumbangan-sumbangan yang tidak masuk akal, padahal lembaga kami
adalah lembaga swasta yang tidak banyak memiliki uang, terus dari mana kami
akan membayarnya,” kata Kepala MTs I An-Nuqayah K. Farid Hasan Minggu (8/3).
Dikatakan,
banyaknya tekanan, seperti pembayaran sumbangan untuk perlombaan Aksioma itu,
dinilai sangat memberatkan bagi lembaga, khususnya bagi lembaga pesantran An-Nuqayah
sendiri.
Sebab,
saat dikalikan dengan jumlah siswa, yang harus dibayar hingga mencapai puluhan
juta. Sehingga Ketua Biro Madaris pesantren An-nuqayah, memilih tidak
berkontribusi dan ikut ambil bagian pada kegiatan tersebut.
"Bayangkan
saja, jumlah siswa MTs di An-nuqayah sebanyak 1940 siswa, kalau dikalikan
sepuluh ribu perorang maka angkanya akan ketemu Rp 19.400.000. Sedang untuk MA
jumlah siswanya mencapai 1840 orang, kalau dikalikan lima belas ribu persiswa
maka hasilnya mencapai Rp 27.600.000, lah kalau ditotal bulat sumbangan Aksioma
yang harus kami bayar, mencapai Rp 47.000.000, sementara utusan yang harus kami
kirim, maksimal 4 orang perlembaga,” ujarnya.
Karena
tidak mampu membayar sumbangan Aksioma, Kepala MTs I An-nuqayah selalu mendapat
teguran dari ketua kelompok kerja madrasah (KKM) Sumenep, sehingga pihaknya
merasa risih dan tidak betah berada dibawah naungan Kemenag. Selanjutnya K.
Farid, menumpahkan keluhannya pada Biro Madaris di pesantren An-nuqayah, dan
ditanggapi positif oleh pengurus Madaris.
"Kalau
pindah naungan akan menjadi kebaikan bagi lembaga madrasah di An-nuqayah,
kenapa tidak, kami setuju saja bila Madrasah di An-nuqayah berubah kulit dan
berada dibawah naungan lembaga lain. Yang penting lembaga tersebut betul-betul
dapat mengayomi kami,” kata K. Moh. Naqib Hasan, selaku salah satu Pengurus
Pesantren Pesantren An-Nuqayah Bidang Pesantren.
Perlu
diketahui, jumlah siswa MTs dan MA yang ada di lingkungan pesantren
An-nuqayah, jumlahnya mencapai 3780, dengan rincian MTs I putra sebanyak
690 siswa, MTs I putri sebanyak 900 siswa, MTs II putra 50 siswa, MTS III putri
300 orang siswa, total 1940 orang siswa. Sedang siswa yang duduk di bangku
Madrasah Aliyah (MA), sebanyak 1840 orang siswa, dengan rincian MA I putra 500
orang siswa, MA I Putri 1100 orang, MA II 90 orang, MAT 150 orang.
Sayangnya
Kepala Kemenag Sumenep H. Moh. Shodiq masih belum bisa menjelaskan apapun
terkait pelaksanaan Aksioma. Karena saat
dihubungi melalui telepon selulernya tidak merespon meskipun nada sambungnya
terdengar aktif. (di/fa)

