» » Aksioma Serat Permainan?

Aksioma Serat Permainan?

Penulis By on Senin, 09 Maret 2015 |



Sumenep, NewsDaerah – Ajang Kompetensi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma) tahun 2015 yang digelar mengatasnamakan Kementrian Agama (Kemenag) Sumenep, ditengarai serat permainan. Buktinya, semua sekolah ditingkat MTs (Madrasah Tsanawiyah) dan Madrasah Aliyah (MA) yang berada dibawah naungan kemenag diwajibkan membayar sumbangan meskipun lembaga yang bersangkutan tidak mendelegasikan siswa terbaiknya dalam ajang perlombaan tersebut.
Informasinya, dari hasil sumbangan tang telah didapat dari semua lembaga binaan Kemenag itu nantinya akan dijadikan biaya operasional perlombaan Aksioma. Adapun besaran sumbangan yang diminta disesuaiian dengan tingkatan lembaga masing-masing. Jika MTs diwajibkan membayar Rp 10 ribu setiap siswa, srdangkan tingkat MA diwajibkan membayar Rp 16 ribu setiap siswa.
Kondisi seperti itu membuat pengelola madrasah resah.
Bahkan banyak pembaga dibawah naungan Kemenag yang mengeluh lantaran selalu mendapat tekanan setiap kali ada acara. Salah satunya sekolah swasta An-Nuqayah Guluk-Guluk. Bahkan, lembaga swasta ternama di Kabupaten Sumenep, mengancam akan hengkang dari kemenag.
"Kami memang sudah tidak kerasan berada dibawah naungan  kemenag, karena kami selalu dibebani sumbangan-sumbangan yang tidak masuk akal, padahal lembaga kami adalah lembaga swasta yang tidak banyak memiliki uang, terus dari mana kami akan membayarnya,” kata Kepala MTs I An-Nuqayah K. Farid Hasan Minggu (8/3).
Dikatakan, banyaknya tekanan, seperti pembayaran sumbangan untuk perlombaan Aksioma itu, dinilai sangat memberatkan bagi lembaga, khususnya bagi lembaga pesantran An-Nuqayah sendiri.
Sebab, saat dikalikan dengan jumlah siswa, yang harus dibayar hingga mencapai puluhan juta. Sehingga Ketua Biro Madaris pesantren  An-nuqayah, memilih tidak berkontribusi dan ikut ambil bagian pada kegiatan tersebut.
"Bayangkan saja, jumlah siswa MTs di An-nuqayah sebanyak 1940 siswa, kalau dikalikan sepuluh ribu perorang maka angkanya akan ketemu Rp 19.400.000. Sedang untuk MA jumlah siswanya mencapai 1840 orang, kalau dikalikan lima belas ribu persiswa maka hasilnya mencapai Rp 27.600.000, lah kalau ditotal bulat sumbangan Aksioma yang harus kami bayar, mencapai Rp 47.000.000, sementara utusan yang harus kami kirim, maksimal 4 orang perlembaga,” ujarnya.
Karena tidak mampu membayar sumbangan Aksioma, Kepala MTs I An-nuqayah selalu mendapat teguran dari ketua kelompok kerja madrasah (KKM) Sumenep, sehingga pihaknya merasa risih dan tidak betah berada dibawah naungan Kemenag. Selanjutnya K. Farid, menumpahkan keluhannya pada Biro Madaris di pesantren An-nuqayah, dan ditanggapi positif oleh pengurus Madaris.
"Kalau pindah naungan akan menjadi kebaikan bagi lembaga madrasah di An-nuqayah, kenapa tidak, kami setuju saja bila Madrasah di An-nuqayah berubah kulit dan berada dibawah naungan lembaga lain. Yang penting lembaga tersebut betul-betul dapat mengayomi kami,” kata K. Moh. Naqib Hasan, selaku salah satu Pengurus Pesantren Pesantren An-Nuqayah Bidang Pesantren.
Perlu diketahui, jumlah  siswa MTs dan MA yang ada di lingkungan pesantren An-nuqayah, jumlahnya mencapai 3780, dengan rincian  MTs I putra sebanyak 690 siswa, MTs I putri sebanyak 900 siswa, MTs II putra 50 siswa, MTS III putri 300 orang siswa, total 1940 orang siswa. Sedang siswa yang duduk di bangku Madrasah Aliyah (MA), sebanyak 1840 orang siswa, dengan rincian MA I putra 500 orang siswa, MA I Putri 1100 orang, MA II 90 orang, MAT 150 orang.
Sayangnya Kepala Kemenag Sumenep H. Moh. Shodiq masih belum bisa menjelaskan apapun terkait  pelaksanaan Aksioma. Karena saat dihubungi melalui telepon selulernya tidak merespon meskipun nada sambungnya terdengar aktif. (di/fa)
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya

Flexible Home Layout

Tabs

Main menu section

Featured Posts Coolbthemes

featured-video

featured-content2

featured-content2

featured-content2

Social Icons