SUMENEP –
Pekerjaan proyek utamanya yang berhubungan dengan pembangunan di Kabupaten Sumenep
nampaknya masih belum sepadan dengan harapan pemerintah. Hal itu diduga karena
proyek pmebangunan di Sumenep tanpa ada konsep yang jelas.
Akibatanya,
meskipun setiap tahun telah dianggrakan miliaran rupiah, namun tidak berimbas
terhadap kemajuan daerah. Hal itu semua disampaikan oleh anggota komisi A DPRD
Sumenep Abrori Mannan. Menrutnya, pembanguan di Sumenep hanya terkesan
mengahbiskan anggaran.
”Selama
ini konsep pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah daerah masih belum jelas.
Bahkan selama ini pemeritnah daerah hanya sukses merealisasikan anggaran saja,”
katanya.
Dia
menconkan pengembangan wisata Pulau Gili Iyang, Kecamatan Dungkek. Pemerintah
hanya bisa menginformasikan jika di pulau tersebut tergolong wilayah dengan
kadar oksigen terbaik kedua di dunia. Namun konsep pembangunnaya tidak jelas. ”Pembanguan
pulau itu masih belum jelas. Baik rencana wisatanya, sarana pendukungnya apa, dan
lain semacamnya masih belum dijelaskan secara detail oleh pemerintah,” terangnya
Mestinya
kata politisi PKB asal dapil tiga itu, jika memang akan dikadikan tempat
wisata, maka pemerintah mempersiapkan dengan semaksimal mungkin. Baik mulai penyediaan
transportasi, dan sejumlah tatanan yang bisa membuat wisatawan betah.
”Kalau
memang pemerintah daerah serius, banyak hal kiranya yang harus dilakukan, mulai
menjajaki kerja sama dengan daerah lain seperti Bali dan Kota Lombok di Pulau
Nusa Tenggaran Barat (NTB). Kalau nanti disediakan kapal wisata yang melayani
rute Sumenep, Bali dan Lombok akan lebih menarik. Bahkan, rute tersebut akan
menjadi segitiga emas,” katanya.
Bahkan
lanjut Abrori, akibat ketidak jealsan konsep pemerintah daerah dalam
merealisaikan pembanguan di Sumenep, banyak tempat wisata yang terkesa tidak
terawat.
Salah
satunya pantai lombang yang tekenal dnegan pohon ceamra udangnya. Selin itu,
pantai salopong yang saat ini keberadaannya masih amburadul. Padahal hampir
setiap tahun anggran untuk pembanguan di Sumenep, khsusnya pembangunan jalan
selalu meningkat.
”Nah,
kalau seperti itu kan menjadi mubazir. Bahkan, setiap proyek yang telah
dianggarkan terkesan sia-sia,” pungkasnya. (fr).
