Tarif Listrik PLTD di Tujuh
Pulau Terpencil Kepuluan/Kecamatan Sapeken
2 Lampu Rp 75 ribu setiap bulan
1 TV Rp 75 setiap bulan
1 Kulkas Rp 100 perbulan
1 Pompa Air Rp 100 perbulan
SUMENEP – Nasib malang dialami ribuan warga
Kecamatan/Kepulauan Sapaken, sejak dua bulan terakhir. Pasalnya, Pembangkit
Tenaga Diesel (PLTD) milik perusahaan swasta rusak sehingga tidak beroperasi.
Akibtanya, ribuan warga yang berada dtujuh puluan paling timur Kabupaten
Sumenep itu gelap gulita.
Tujuh pulau tersebut, diantaranya, Pulau
Sabuntan, Pulau Paliat, Pulau Saur, Pulau Saebus, Pulau Sakala dan Pulau Saseel
Kecamatan/Kepulan Sapeken. Saat ini ribuan warga yang berada di tujuh pulau
tersebut, menggunakan lampu talpek sebagai pengganti penerangan selama PLTD
milik perusahaan swasata kemabli bisa beroperasi.
Hal itu dikatakan oleh Ketua Komisi C DPRD
Sumenep Dul Siam saat melakukan reses beberapa hari yang lalu.
”Sebenarnya
sangat banyak tuntutan yang disampaikan oleh warga pada kami, hanya saja yang
sifatanya sangat mendesak hanya satu, yakni penerangan. Karena sudah satu bulan
terakhir kondisi di tujuh pulau itu tidak ada penerangan sama sekali,” kata
Politisi PKB asal Pulau Sabuntan, Kepuluan/Kecamatan Sapeken.
Rusaknya PLTD milik perusahaan swasta itu
dikaibatkan banyak faktor, slahsatunya karena faktor cuaca. Sehingga jaringan
kabel banyak yang basah akibat terkena air hujan yang mengakibatkan mesin PLTD
mendjai rudak. Selain itu, juga akibat kondisi mesin PLTD yang sudah rapuh
karena termakan usia.
Menurut Dulsiam, selain menggunakan lampu
telpek sebagai alterantif, sebagian warga juga memakai mesin Genset. Hanya
saja penggunaan mesin genset itu tidak
berlaku bagi semua warga, melainkan hanya bagi warga yang sudah berperekonomian
menengah keatas.
Oleh sebeb itu, pihaknya sebagai wakil rakyat
dari daerah kepulauan meminta agar pihak eksekutif pada tahun anggaran 2015
mendatang, bisa mengalokasikan sebagian anggaran untuk pengadaan PLTD yang
pengelolaannya diserahkan kepada petuga PLN. ”Ini semua berdasarjkan tuntutan
warga pada kami selaku wakil rakyat yang berada di gedung parlemen. Karena
fersi warga jalan satu-satunya yang bisa membuat penerangan yang lehih
optimal,” terangnya
Sebab menurutnya, penerangan di beberada
kepulan Kecamatan Sapeken masih kurang maksimal. Sebab, penerangan disana hanya
bisa dinikmati selama kurang lebih 9 jam. Yakni mulai pukul 16.00 hingga pukul
23.00. setelah itu dimatikan baru hidup kembali saat menjalang shlat subuh
sekitar pukul 0430 dini hari.
”Jadi, kondisi dipulau terkecil di Kecamatan
Sapeken 80 derajat jauh berbeda dengan kondisi daratan Kecamatan Sapeken.
Karena untuk daerah daratan Kecamtan Sapeken sudah ada PLTD yang dikelola oleh
PLN yang menyediakan penerangan selama 24 jam nonstop,” tukasnya
Manajer
PLN Rayon Sumenep
Slamet mengatakan, jika pengadaan penerangan untuk daerah daeratn di
Kecamatan/Kepuluan Sapeken, sudah tidak ada masalah apapun. Hanya saja untuk
penerangan disejumlah pulau terpencil, pihaknya tidak bisa memastikan seperti
yang terjadi di pusat kecamatan. Sebab soal pengadaan atau perluasan wilayah
bukan wawenang PLN, melainkan harus ada pengajuan dari pihak tertentu, seperti
masyarakat maupun pihak pemerintah.
Hanya
saja, walaupun sudah ada permohoan kepada pihak, PLN pihaknya tidak
memastikankan terealisasi. Sebab, pihak PLNmasih kan meninjau lokasi dan jumlah
konsumen. ”Disejumlah kepulauan, seperti Gili Raja itu pernah diajukan, tapi
masih belum bisa dilaksanakan,” terangnya. (di/fa)
