SUMENEP – Enam
belas nelayan asal warga Desa Legung Timur, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep,
tumpah ke laut setelah Perahu Layar Motor (PLM) Karmila yang dibawanya mencari
ikan ditabrak kapal besar, yang melaju kencang dari arah barat (Surabaya)
menuju arah timur (Lombok atau NTT), Kamis (20/11) sekitar pukul 00.25 Wib.
Akibat kejadian
naas tersebut, PLM Karmila (jenis porsein) milik H. Juri (50), warga Legung
Timur, pecah dan tidak bisa dipergunakan lagi. Sementara 16 orang penumpangnya
ditemukan mengambang di laut dalam keadaan selamat.
Para korban PLM
Karmila langsung dievakuasi oleh nelayan setempat, dan dibawa pulang ke
rumahnya masing-masing. Sedangkan bangkai PLM Karmila diderek ke tepi laut
menggunakan dua perahu layar motor.
Kejadian naas
tersebut bermula saat PLM Karmila hendak mencari ikan diperairan Badur,
Kecamatan Batuputih, Sumenep. Namun belum sempat PLM Karmila menebar jaring
untuk menangkap ikan, tiba-tiba dari arah barat melaju kencang sebuah
kapal besar tanpa menyalakan lampu sorot, dan menabrak perahu yang sedang lego
jangkar.
Akibatnya,
semua penumpang yang ada dalam perahu tumpah dan berserakan di laut, sementara
kapal yang menabraknya, sama sekali tidak mengindahkan korban-korbannya, kapal
tersebut terus saja melaju ke arah timur. Enam belas penumpang perahu naas
tersebut, berhasil selamat, berkat pertolongan nelayan setempat yang melintas
disekitar lokasi kejadian pada keesokan harinya.
“Kami tidak
sempat meminggirkan perahu kami dari rute yang akan dilewati kapal, karena
tahunya kami jika ada kapal ketika posisinya sudah dekat dengan perahu kami,
dan langsung menabrak perahu kami,” kata Suto (48), penumpang perahu selamat,
Jumat (21/11).
Menurutnya,
kapal besar yang menabrak perahunya itu tidak menyalakan lampu sorot, ada
kemungkinan nahkodanya sedang tertidur dan arah kemudi kapal hanya dikendalikan
oleh remot kontrol. Akibatnya, orang kapal tidak tahu menahu terhadap rintangan
yang ada didepannya, dan kapal akan menabrak rintangan apa saja yang melintang
didepannya.
“Biasanya
kapal-kapal besar yang berlayar dari arah barat dan posisinya agak ke pinggir,
akan menuju ke Lombok atau NTT, Soalnya kalau yang tujuan Kalimantan atau
Sulawesi, arahnya agak ke tengah,” timpal Hanafi, warga setempat.
Akibat
perahunya hancur ditabrak kapal tak dikenal, 16 nelayan asal Legung Timur,
tidak lagi beraktivitas ke laut, mereka masih taruma dengan peristiwa yang
dialaminya. Akibatnya mereka kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari, yang sebelumnya hanya mengandalkan penghasilan dari melaut.
Hanafi
berharap, ada kepedulian dari pemerintah daerah terhadap 16 nelayan korban laka
laut, saat ini para korban tidak bisa beraktifitas karena menunggu perahunya
diperbaiki. Sedangkan untuk memperbaiki perahunya yang hancur itu, nelayan
harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, yakni sekitar 350 juta rupiah.
Kondisi
perahu PLM Karmila mengalami rusak parah, dan badan perahunya pecah.
Parahu layar motor milik H. Juhri itu, tidak dapat dipergunakan lagi setelah
mengalami musibah ditabrak kapal. Perahu tersebut hanya diparkir ditepi laut
sambil menunggu dana untuk memperbaikinya. (sa/di)
