» » Ditabrak Kapal 16 Nelayan Tumpah Ke Laut

Ditabrak Kapal 16 Nelayan Tumpah Ke Laut

Penulis By on Minggu, 23 November 2014 |



SUMENEP – Enam belas nelayan asal warga Desa Legung Timur, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep, tumpah ke laut setelah Perahu Layar Motor (PLM) Karmila yang dibawanya mencari ikan ditabrak kapal besar, yang melaju kencang dari arah barat (Surabaya) menuju arah timur (Lombok atau NTT), Kamis (20/11) sekitar pukul 00.25 Wib.
Akibat kejadian naas tersebut, PLM Karmila (jenis porsein) milik H. Juri (50), warga Legung Timur, pecah dan tidak bisa dipergunakan lagi. Sementara 16 orang penumpangnya ditemukan mengambang di laut dalam keadaan selamat.
Para korban PLM Karmila langsung dievakuasi oleh nelayan setempat, dan dibawa pulang ke rumahnya masing-masing. Sedangkan bangkai PLM Karmila diderek ke tepi laut menggunakan dua perahu layar motor.

Kejadian naas tersebut bermula saat PLM Karmila hendak mencari ikan diperairan Badur, Kecamatan Batuputih, Sumenep. Namun belum sempat PLM Karmila menebar jaring untuk menangkap  ikan, tiba-tiba dari arah barat melaju kencang sebuah kapal besar tanpa menyalakan lampu sorot, dan menabrak perahu yang sedang lego jangkar.
Akibatnya, semua penumpang yang ada dalam perahu tumpah dan berserakan di laut, sementara kapal yang menabraknya, sama sekali tidak mengindahkan korban-korbannya, kapal tersebut terus saja melaju ke arah timur. Enam belas penumpang perahu naas tersebut, berhasil selamat, berkat pertolongan nelayan setempat yang melintas disekitar lokasi kejadian pada keesokan harinya.
“Kami tidak sempat meminggirkan perahu kami dari rute yang akan dilewati kapal, karena tahunya kami jika ada kapal ketika posisinya sudah dekat dengan perahu kami, dan langsung menabrak perahu kami,” kata Suto (48), penumpang perahu selamat, Jumat (21/11).
Menurutnya, kapal besar yang menabrak perahunya itu tidak menyalakan lampu sorot, ada kemungkinan nahkodanya sedang tertidur dan arah kemudi kapal hanya dikendalikan oleh remot kontrol. Akibatnya, orang kapal tidak tahu menahu terhadap rintangan yang ada didepannya, dan kapal akan menabrak rintangan apa saja yang melintang didepannya.
“Biasanya kapal-kapal besar yang berlayar dari arah barat dan posisinya agak ke pinggir, akan menuju ke Lombok atau NTT, Soalnya kalau yang tujuan Kalimantan atau Sulawesi, arahnya agak ke tengah,” timpal Hanafi, warga setempat.
Akibat perahunya hancur ditabrak kapal tak dikenal, 16 nelayan asal Legung Timur, tidak lagi beraktivitas ke laut, mereka masih taruma dengan peristiwa yang dialaminya. Akibatnya mereka kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, yang sebelumnya hanya mengandalkan penghasilan dari melaut.
Hanafi berharap, ada kepedulian dari pemerintah daerah terhadap 16 nelayan korban laka laut, saat ini para korban tidak bisa beraktifitas karena menunggu perahunya diperbaiki. Sedangkan untuk memperbaiki perahunya yang hancur itu, nelayan harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, yakni sekitar 350 juta rupiah.
 Kondisi perahu PLM Karmila mengalami  rusak parah, dan badan perahunya pecah. Parahu layar motor milik H. Juhri itu, tidak dapat dipergunakan lagi setelah mengalami musibah ditabrak kapal. Perahu tersebut hanya diparkir ditepi laut sambil menunggu dana untuk memperbaikinya. (sa/di)
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya

Flexible Home Layout

Tabs

Main menu section

Featured Posts Coolbthemes

featured-video

featured-content2

featured-content2

featured-content2

Social Icons