SUMENEP, News Daerah
- Meskipun akhir-akhir ini harga rumput laut mengalami penurunan. Namun tanaman
tersebut masih menjadi tanaman primadona masyarakat Pulau Sadulang, Kecamatan
Sapeken. Sebab, tanaman tersebut diyakini bisa memberikan omset besar
dibandingkan tanaman holtikultura yang lain.
”Jadi
wajar jika masyarakat sini tetap mencintai tanaman rumput laut, karena letak giografis daerah kami memang di kelilingi air laut," kata
Fajeri Kepala Desa Sadulang, Kecamtan/Kepuluan Sapeken.
Dikatakan, rumput laut yang biasa ditanam oleh warganya terdapat dua jenis,
yakni rumput laut jenis katoni dan rumput laut jenis Pinasup.
”Perbedaannya sangat sedikit, kalau rumput
laut jenis Katoni itu biasanya ditanam menggunkan ancak. Sedangkan rumput laut
jenis Pinasup merupakan janis rumput laut yang tumbuh di karang,” jelasnya.
Sementara harga rumput laut kedua jenis rumput laut itu bebrdeda, jika
rumput laut jenis Katoni untuk harga keringnya Rp 2 ribu perkilogramnya
sedangkan harga rumput laut basah Rp 1.500 perkilogramnya. Sedangkan harga bibit persatu kilogramnya
sebsar Rp 2 ribu.
Sedangkah harga rumput laut jenis Pinasup lebih murah dibandingkan harga
rumput laut jenasi katoni, yakni Rp 700 rupiah untuk rumput laut basah dan Rp 1
ribu ribu kering. Sedangkan untuk harga bibitnya sebesar Rp 1 ribu
perkilogramnya.
”Bedanya, kalau rumput laut Pinasup ini masa tanamnya lbeih singkat
dibandingjkan rumput laut jenis Katoni.,” ungkapnya.
Menurut Fajari, dalam satu akli tanam warga bisa menghasilkan sebanyak 4
ton rumput laut kering. Masa panen rumput laut bisa dilakukan dalam jenjang
waktu maksimal selama 40 hari.
Dalam satu tahun penanaman rumput laut tersebut hanya bisa melakukan
budidaya selama kurun waktu delpan bulan. Yakni dari bulan Januari himngga
Bulan Agustus. Sebab, jika sesudah bulan Agustus diyakni tidak akan produktif
lagi. Sedangkan tempat untuk melakukan penjualan, petani lebih memilih untuk
dijual di daerah perkotaan Sumenep.
”Kalu dimasa itu (Setelah Bulan Agustus), banyak orang yang enggan
melakukan budidya rumput laut. Karena sudah tidak produktif lagi, sehingga
petani rumput laut seringkali merugi,” ungkapnya.
Hanya saka meskipun didaerahnya termasuk kategori sebagian penghasil rumput
laut terbesar, cara tanamnya masih menggunakan cara tradisional. ”Selama ini
masih belum ada sentuhan alat modern. Makanya kalau memang ada alat modern kami
sangat membutuhkan. Bahkan kami juga sangat mengingkan di daerah kami ada
gudang rumput laut seperti di kecamatan wilayah daratan,” harapnya.
Sementara Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Sumenep Mohammad Jakfar
mengakui jika di daerah pulau Sadulang merupakan salah stu penghasil rumput
laut terbesar. ”Benar itu, kami sudah melakukan survei ke sana, dan sangat
mensupport adanya budi daya rumput laut itu,” katanya.
Oleh sebab itu, dirinya mengaku akan memperjuangkan untuk dibangun gudang
rumput laut. Itu untuk menampung hasil tanaman rumput laut milik petani. ”Ini
juga bisa difungsikan tatkala harga rumput laut anjlok. Jadi petani bisa
menyimpannya. Doakan saja semoga ini bisa segera tercapai,” tukasnya. (di/fa)

