» » Rumput Laut Jadi Tanaman Primadona Warga Pulau Sadulang

Rumput Laut Jadi Tanaman Primadona Warga Pulau Sadulang

Penulis By on Senin, 04 Mei 2015 |



SUMENEP, News Daerah - Meskipun akhir-akhir ini harga rumput laut mengalami penurunan. Namun tanaman tersebut masih menjadi tanaman primadona masyarakat Pulau Sadulang, Kecamatan Sapeken. Sebab, tanaman tersebut diyakini bisa memberikan omset besar dibandingkan tanaman holtikultura yang lain.
Jadi wajar jika masyarakat sini tetap mencintai tanaman rumput laut, karena letak giografis daerah kami memang di kelilingi air laut," kata Fajeri Kepala Desa Sadulang, Kecamtan/Kepuluan Sapeken.
Dikatakan, rumput laut yang biasa ditanam oleh warganya terdapat dua jenis, yakni rumput laut jenis katoni dan rumput laut jenis Pinasup. 
”Perbedaannya sangat sedikit, kalau rumput laut jenis Katoni itu biasanya ditanam menggunkan ancak. Sedangkan rumput laut jenis Pinasup merupakan janis rumput laut yang tumbuh di karang,” jelasnya.
Sementara harga rumput laut kedua jenis rumput laut itu bebrdeda, jika rumput laut jenis Katoni untuk harga keringnya Rp 2 ribu perkilogramnya sedangkan harga rumput laut basah Rp 1.500 perkilogramnya.  Sedangkan harga bibit persatu kilogramnya sebsar Rp 2 ribu.
Sedangkah harga rumput laut jenis Pinasup lebih murah dibandingkan harga rumput laut jenasi katoni, yakni Rp 700 rupiah untuk rumput laut basah dan Rp 1 ribu ribu kering. Sedangkan untuk harga bibitnya sebesar Rp 1 ribu perkilogramnya.
”Bedanya, kalau rumput laut Pinasup ini masa tanamnya lbeih singkat dibandingjkan rumput laut jenis Katoni.,” ungkapnya.
Menurut Fajari, dalam satu akli tanam warga bisa menghasilkan sebanyak 4 ton rumput laut kering. Masa panen rumput laut bisa dilakukan dalam jenjang waktu maksimal selama 40 hari.
Dalam satu tahun penanaman rumput laut tersebut hanya bisa melakukan budidaya selama kurun waktu delpan bulan. Yakni dari bulan Januari himngga Bulan Agustus. Sebab, jika sesudah bulan Agustus diyakni tidak akan produktif lagi. Sedangkan tempat untuk melakukan penjualan, petani lebih memilih untuk dijual di daerah perkotaan Sumenep.
”Kalu dimasa itu (Setelah Bulan Agustus), banyak orang yang enggan melakukan budidya rumput laut. Karena sudah tidak produktif lagi, sehingga petani rumput laut seringkali merugi,” ungkapnya.
Hanya saka meskipun didaerahnya termasuk kategori sebagian penghasil rumput laut terbesar, cara tanamnya masih menggunakan cara tradisional. ”Selama ini masih belum ada sentuhan alat modern. Makanya kalau memang ada alat modern kami sangat membutuhkan. Bahkan kami juga sangat mengingkan di daerah kami ada gudang rumput laut seperti di kecamatan wilayah daratan,” harapnya.
Sementara Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Sumenep Mohammad Jakfar mengakui jika di daerah pulau Sadulang merupakan salah stu penghasil rumput laut terbesar. ”Benar itu, kami sudah melakukan survei ke sana, dan sangat mensupport adanya budi daya rumput laut itu,” katanya.
Oleh sebab itu, dirinya mengaku akan memperjuangkan untuk dibangun gudang rumput laut. Itu untuk menampung hasil tanaman rumput laut milik petani. ”Ini juga bisa difungsikan tatkala harga rumput laut anjlok. Jadi petani bisa menyimpannya. Doakan saja semoga ini bisa segera tercapai,” tukasnya. (di/fa)

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya

Flexible Home Layout

Tabs

Main menu section

Featured Posts Coolbthemes

featured-video

featured-content2

featured-content2

featured-content2

Social Icons