Sumenep, NewsDaerah – Sedikitnya sebanyak 15 guru di
Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMP) I Guluk-Guluk, Kecamatan Guluk-Guluk, kelimpungan.
Pasalnya lima belas guru honorer itu tidak mendapatakan bayaran selama kurang
lebih empat bulan lamnya.
Hal itu disebabkan dana Bantuan Operasional (BOS)
selama dua bulan terkhir tidak dicarikan oleh pemerintah. ”Sudah dua bulan kami
tidak mendapat bayaran dari sekolah, karena tidak ada pencairan dana BOS di
sekolah kami,” kata guru honorer SMPN I Guluk-Guluk Syaiful Bahri (40).
Menurut pria yang sudah lima tahun mengabdikan
diri di SMPN I Guluk-Guluk itu, terlambatnya pembayaran terhadap guru honorer
itu, dikarenakan rekening
BOS milik sekolah di blokir pihak Bank. Hal itu merupakan
imbas dari masa tugas kepala sekolah. Semanta hingga saat ini masih belum ada
penggantunya.
Akibatnya, beberapa kegiatan ekstra disekolah
tersebut terganggu, karena tidak adanya dana penunjang untuk kegiatan ekstra.
Namun, agar kegiatan ekstra di SMPN
Guluk-Guluk tetap jalan, pihak sekolah harus pontang panting mencari hutangan
ke sesama guru, atau ke toko langganan mereka. Sehingga catatan hutang
SMPN Guluk-Guluk, tiap hari selalu bertambah dan terus bertambah, sehingga guru
yang biasa disuruh mengutang, merasa malu pada pemilik toko.
”Saya sampek malu disuruh ngutang terus sama
sekolah, karena tiap kali ada kegiatan pasti saya yang disuruh ngutang ke toko,
sampek tidak enak sama orang tokonya,” ujar salah sorang guru honorr yang lain Etari
Laila (35).
Mantan Kepala SMPN I Guluk-Guluk Puji Handoko
mengakui jika pencairan dana BOS mengalmi keterlambatan. Bahkan sejak dua bulan
lalu, bantuan dana BOS di lembaganya, sudah tidak bisa dicairkan, karena masih
menunggu tugas kepala sekolah baru, yang masih dalam proses priodenisasi.
”Memang sudah bulan sekolah kami tidak bisa
mencairkan dana Bos, itu karena tugas saya sebagai kepala sekolah sudah
berkhir,” bebernya.
Untuk bisa mencairkan dana BOS di SMPN
Guluk-Guluk, lembaga harus memiliki kepala sekolah baru yang ditunjuk
oleh Disdik setempat. Dengan begitu pencairan dana BOS tidak akan terhambat dan
tetap lancar.
Tentu saja tidak cairnya dana BOS di SMPN
Guluk-Guluk, yang sudah dua bulan itu, mendapat sorotan tajam dari berbagai
pihak. Lembaga pendidika Guluk-Guluk, dianggapnya tidak mengantisipasi masa
tugas kepala sekolah, sehingga mengganggu terhadap pencairan bantuan dana BOS
dilembaga tersebut.
”Ini tidak logis, mestinya di lembaga itu
sudah antisipasi dini terhadap akan berakhirnya jabatan kepala sekolah,
sehingga tidak sampai terjadi seperti ini,” kata Nurul Hamzah, Ketua PGRI
Kabupaten Sumenep.
Menurutnya, masalah yang terjadi di SMPN
Guluk-Guluk merupakan contoh buruk yang seharusnya terjadi di lembaga
pendidikan. Sehingga lembaga pendidikan tetap berjalan normal sebagaimana
mestinya.
”Kejadian tidak cairnya dana BOS hingga dua
bulan, jelas sangat mengganggu pada kegiatan maupun kinerja guru di lembaga
tersebut, karena honor guru sukwan dilembaga tersebut, dibayarkan dari bantuan
dana BOS dari pemerintah, bila dana BOS tidak cair jelas mereka tidak dibayar,
kan kasihan mereka,”pungkas Sandy Tyas Mulyadi, pegiat pendidikan Sumenep.
Informasi dilapangan, jumlah siswa di SMPN
Guluk-Guluk, tercatat 170 orang siswa dengan tujuh ruang kelas
belajar, serta 17 orang guru PNS, dan 15 orang guru sukwan. Semntara SMP
yang tidak bisa mencairkan dana BOS tercatat lima SMP baik kepulauan maupun
daratan, karena masa tugas Kepala sekolahnya sudah berakhir. (di/fa)

