» » 15 Guru Honorer SMP Guluk-Guluk Kelimpungan

15 Guru Honorer SMP Guluk-Guluk Kelimpungan

Penulis By on Kamis, 12 Maret 2015 |



Sumenep, NewsDaerah – Sedikitnya sebanyak 15 guru di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMP) I Guluk-Guluk, Kecamatan Guluk-Guluk, kelimpungan. Pasalnya lima belas guru honorer itu tidak mendapatakan bayaran selama kurang lebih empat bulan lamnya.
Hal itu disebabkan dana Bantuan Operasional (BOS) selama dua bulan terkhir tidak dicarikan oleh pemerintah. ”Sudah dua bulan kami tidak mendapat bayaran dari sekolah, karena tidak ada pencairan dana BOS di sekolah kami,” kata guru honorer SMPN I Guluk-Guluk Syaiful Bahri (40).
Menurut pria yang sudah lima tahun mengabdikan diri di SMPN I Guluk-Guluk itu, terlambatnya pembayaran terhadap guru honorer itu, dikarenakan rekening
BOS milik sekolah di blokir pihak Bank. Hal itu merupakan imbas dari masa tugas kepala sekolah. Semanta hingga saat ini masih belum ada penggantunya.
Akibatnya, beberapa kegiatan ekstra disekolah tersebut terganggu, karena tidak adanya dana penunjang untuk kegiatan ekstra.
Namun, agar kegiatan ekstra di SMPN Guluk-Guluk tetap jalan, pihak sekolah harus pontang panting mencari hutangan ke sesama guru, atau ke toko langganan mereka.  Sehingga catatan hutang SMPN Guluk-Guluk, tiap hari selalu bertambah dan terus bertambah, sehingga guru yang biasa disuruh mengutang, merasa malu pada pemilik toko.
”Saya sampek malu disuruh ngutang terus sama sekolah, karena tiap kali ada kegiatan pasti saya yang disuruh ngutang ke toko, sampek tidak enak sama orang tokonya,” ujar salah sorang guru honorr yang lain Etari Laila (35).
Mantan Kepala SMPN I Guluk-Guluk Puji Handoko mengakui jika pencairan dana BOS mengalmi keterlambatan. Bahkan sejak dua bulan lalu, bantuan dana BOS di lembaganya, sudah tidak bisa dicairkan, karena masih menunggu tugas kepala sekolah baru, yang masih dalam proses priodenisasi.
”Memang sudah bulan sekolah kami tidak bisa mencairkan dana Bos, itu karena tugas saya sebagai kepala sekolah sudah berkhir,” bebernya.
Untuk bisa mencairkan dana BOS di SMPN Guluk-Guluk, lembaga harus memiliki  kepala sekolah baru yang ditunjuk oleh Disdik setempat. Dengan begitu pencairan dana BOS tidak akan terhambat dan tetap lancar.
Tentu saja tidak cairnya dana BOS di SMPN Guluk-Guluk, yang sudah dua bulan itu, mendapat sorotan tajam dari berbagai pihak. Lembaga pendidika Guluk-Guluk, dianggapnya tidak mengantisipasi masa tugas kepala sekolah, sehingga mengganggu terhadap pencairan bantuan dana BOS dilembaga tersebut.
”Ini tidak logis, mestinya di lembaga itu sudah antisipasi dini terhadap  akan berakhirnya jabatan kepala sekolah, sehingga tidak sampai terjadi seperti ini,” kata Nurul Hamzah, Ketua PGRI Kabupaten Sumenep.
Menurutnya, masalah yang terjadi di SMPN Guluk-Guluk merupakan contoh buruk yang seharusnya terjadi di lembaga pendidikan. Sehingga lembaga pendidikan tetap berjalan normal sebagaimana mestinya.
”Kejadian tidak cairnya dana BOS hingga dua bulan, jelas sangat mengganggu pada kegiatan maupun kinerja guru di lembaga tersebut, karena honor guru sukwan dilembaga tersebut, dibayarkan dari bantuan dana BOS dari pemerintah, bila dana BOS tidak cair jelas mereka tidak dibayar, kan kasihan mereka,”pungkas Sandy Tyas Mulyadi, pegiat pendidikan Sumenep.
Informasi dilapangan, jumlah siswa di SMPN Guluk-Guluk, tercatat  170 orang siswa dengan  tujuh ruang kelas belajar, serta  17 orang guru PNS, dan 15 orang guru sukwan. Semntara SMP yang tidak bisa mencairkan dana BOS tercatat lima SMP baik kepulauan maupun daratan, karena masa tugas Kepala sekolahnya sudah berakhir. (di/fa)
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya

Flexible Home Layout

Tabs

Main menu section

Featured Posts Coolbthemes

featured-video

featured-content2

featured-content2

featured-content2

Social Icons