.jpg)
Menanggapi
aksi sejumlah mahasiswa itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep juga
angkat bicara. Bahkan, berdasarkan data dai Dinkes, penyebaran virus meamatikan
itu berada di tiga lokasi. Yakni sepanjang pantura, mulai dari Kecamatan
Pasongsongan, Kecamatan Ambunten, Dasuk sampai Kecaman Batu Putih.
Selain itu juga, yang rawan penyebaran
paenyakit HIV/AIDS di semua kepulauan sumenep, serta di daerah bagian selatan
Sumenep, meliputi Kecamtan Pragaan, Kecamatan Bluto, Kecamatan Saronggi dan
Kecamtan Kota Sumenep. ”Sedangkan untuk daerah tengah masih sangat kecil
potensi penyebarannya. Yakni hanya di Kecamatan Lenteng yang berhasil kami
diteksi saat ini,” kata Kepala Dinkes Sumenep dr. A. Fatoni.
Sementara untuk jumlah penderita panyekit
meatikan itu, sejak tahun 2013 yang lalu telah mencapai 21 orang. Hanya saja
sampai saat ini penderita penyakit tersebut terus mengali penurunan, hingga
menelasng penutupan tahun 2014 penderita HIV/AIDS di Kabupaten Sumenep hanya
tinggal 13 orang. ”Delapan orang lainnya sudah meninggal dunia,” tambah Fatoni.
Dia menjelaskan, penderita penyakit HIV/AIDS
di Kabpaten ujung tmur pulau madura ini,
mayoritas warga yang pernah bekerja di
luar daerah, salah satunya Kalimantan dan Malaysia. Namun pihaknya juga tidak
menampik jika sebagian warga sumenepada yeng mendarita walaupun tidak bejkerja
di luar dearah. Hal itu disebabkan karena seringnya kontak ganti pasangan saat
mlakukan hubungan intim.
Sebagai langkah awal untuk menekan peredaran
penyakit metikan itu, pihaknya mengaku telah melakukan pembinaan terhadap
sejumlah petugas yang berada di Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) yang
berada di Kecamtan.
Petugas yang sudah terlatih itu, bertugas
untuk memantau secara intensif para penderita HIV/AIDS itu, termasuk
suami/istrinya, karena mereka menjadi kelompok yang rentan terkena penyakit
tersebut. ”Jadi, kalau sudah ditemukan terjaring penyakit HIV, maka kami
melakukan sosialisai secara intensif terhadap keluarganya. Sehingga, penyebaran
itu bisa terelakkan,” ungkapnya
Sementara tanda-tanda
menularnya penyakit mematikan itu, salah satunya menrut Fatoni, kondisi
fisiknya melemah akibat terserang batuk secara berkelanjuta, diare secara terus
menerus sehingga sehingga perkembangan tubuhnya menjadi terhambat, hingga pada
akhirnya kurus dan mati. ”Kalau penybarannya hanya bisa melalui cairan yang ada
DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) nya,
seperti melalui darah dan hubungan intim,” tukasnya. (di/fa)
