» » Carut Marut Realisasi Program PSKS di Daerah Dari Pungli Hingga Penulakan KPS

Carut Marut Realisasi Program PSKS di Daerah Dari Pungli Hingga Penulakan KPS

Penulis By on Selasa, 09 Desember 2014 |

SUMENEP - Meskipun program simpanan keluarga sejahtera (PSKS) di Kabupaten Sumenep telah disalurkan keberbagai penerima manfaat, namun masih menuai permasalahan yang cukup komplit. Bahkan, disinyalir banyak pemilik kartu perlindungan sosial (KPS) yang terindikasi salah sasaran.
Tidak hanya itu, banyak dana kompensasi BBM (Bahan Bakar Minyak) yang disinyalir dipungli (pungutan liar) oleh salah satu oknum yang tidak bertanggungjawab. Seperti halnya yang terjadi di salah satu desa di kecamatan Rubaru beberapa hari yang lalu.
Dikecamatan pantura itu terindikasi dana kompensasi BBM dipungli sebanyak Rp 100 ribu per DPM. Sehingga penerima manfaat hanya menerima sebesar Rp 300 ribu. Alasan pungli tersebut untuk dibagikan terhadap sejumlah masyarakat miskin yang tidak tercover dalam program PSKS itu. Sebab, meskipun setiap tahun angka kemiskinan secara nasional setiap tahun selalu menyusut, namun fakta dilapangan masih terus meningkat. Sehingga kondisi seperti itu sering dijadikan kesempatan oleh salah satu oknum untuk melancarkan aksi jahatnya itu.
Hanya saja aksi pungli utamanya yang terjadi di salah satu desa Kecamatan Rubaru
itu mendapat tanggapan serius dari kaum intelektual, sehingga untuk mencegah terjadinya aksi serupa untuk tahun-tahun selanjutnya, maka kasus tersebut terpaksa di meja hijaukan.
"Kami sudah melaporkan tindakan itu ke polres sumenep. Ini demi mengawal program pemerintah agar kedepannya agar tepat sasaran," kata Aktifis Garindo Sumenrp Syarkawi.
Kejadian tersebut berbeda yang terjadi di Kepulauan Gili Raja, Kecamatan Gili Genting. Dimana di Pulau yang dihuni sebanyak empat desa itu, yakni Desa Lombang, Jati, Banbaru dan desa Banmaling, banyak penerima kartu sakti yang disinyalir salah sasaran.
Kedaan tersebut berbeda dengan yang terjadi di Kepulauan Gili Raja, Kecamatan Gili Genting. Di pulau yang dihuni sebanyak 4 desa itu, yakni Desa Banbru, Banmaleng, Lombang dan Desa Jati itu, disinyalir banyak penerima kartu sakti yang dinilai salah sasaran.
Dimana di pulau yang dihuni sebanyak.... KK (Kepala Keluarga) itu, hampir rata-rata penerima kartu kompensasi BBM adalah orang yang sudah berperekonomian menengah keatas. Sementara warga yang memang layak untuk menerima malah terkesan dihapus dari data kemiskinan. Sehingga tidak kebagian kartu KPS.
Sebut saja Buk Matliye seorang janda tua renta yang kesehariannya berprofesi sebagai penjual jendol keliling. Janda yang hanya tinggal sebatangkara itu luput dari pendataan penerimaan kartu KPS. Padahal secara kasat mata janda renta itu sangat layak untuk mendapatkan kompensasi BBM sebesar Rp 400 ribu yang diberikan setiap dua bulan satu kali.
Salah satu tokoh pemuda Giliraja Syaiful Anang, menyayangkan hal ini terjadi, walaupun sistem yang di bangun itu sudah di anggap benar oleh pemerintah, namun tidak tahunya masih banyak warga miskin yang menjadi tumbal kaum itelektual lainnya. Sebab, dirinya menyakini jika kejadian itu akibat ketidak seriusan aparat pemerintah, baik pemerintah tingkat desa sampai sistem kepemerintahan tingkat pusat.
"Ini akibat pencacahan (pendataan) yang dilakukan oleh pemerintah kurang serius. Sehingga banyak warga yang semestinya menerima malah tidak kebagian apapun. Sehingga, mereka hanya menjadi korban saja," katanya.
Lebih lanjut pemuda yang kerap di juluki senjata informasi publik itu dengan tegas mengatakan, jika dirinya sangat tidak setuju diluncurkannya program PSKS tersebut. Sebab, adanya program yang dinilai sangat mulya oleh segelintir orang, namun menurutnya program itu tidak ubahnya ilusi pemerintah yang tidak berarti.
Sebab, adanya program tersebut dinilai tidak bisa mendongkrak ribuan warga negara yang dikategorikan berperekonomian rendah lebih kreatif. Melainkan adanya program tersebut pemerintah terkesan memanjakan warga dengan iming-iming bantuan yang dinilai relatif kecil.
"Kami lebih setuju jika dana kompensasi itu dialihkan untuk program lain yang bisa membuat masyarakat lebih kreatif. Salah satunya untuk penguatan modal bagi sejumlah koperasi maupun hume industri yang lain," terangnya.
Sementara yang terjadi di Desa Kasengan, Kecamatan Manding, hingga saat ini pemegang kartu PSKS masih belum menerima. Belum menerimanya itu lantaran aparat desa setempat masih belum mebagikan walaupun sudah lama sampai di aparat desa setempat.
Alasan belum diberikan epada penerima manfaat itu, disebabkan data penerima yang ditetrima apara desa setiap tahunnya selalu berkurang dan disinyalir banyak yang tdiak tepat sasaran. Sehingga terpaksa KPS yang telah diterimanya terpaksa ditolak.
Berdasarkan data yang ada, pada tahun 2014 di Desa Kasengan, yang mempunyai jatah dana kompensasi BBM sebanyak 66 orang. Padahal pada tahun-tahun sebelumnya yang menrima kompensasi kenaikan BBM mencapai yang dikemas dalam bantuan langsung tunai (BLT) 2009-2010 sebanyak 351 orang. Jadi dari data awal jumlah pemerintah telah menghapus data keluarga miskin sebabanyak 285 orang.
"Nah menyusutnya jumlah penerima itu yang membuat akami tidak habis fikir selama ini. Karena kalau terpaksa dibagikan sesui dnegan jatah yang ada, lalu yang lainnya mau dikemankan. Makanya hingga sekarang kartu itu belum kami bagikan, kami masih akan berkordinasi dengan atasan dulu," kata Sekretaris Desa (Sekdes) Kasengan Samsul Huda.
Bahkan jkata Sasul, jika semua itu harus dibagikan sesuai dengan jatah yang diterima saat ini, pihaknya khawatir akan terjadi gejolak dikemudian hari.
Sementara Kepala Desa (Kades) Kasengan Mahfud, membenarkan belum dibagikannya kartu KPS kepada warganya. Hal itu dilakukan karena pihaknya masih akan berkordinasi dengan camat dan bupati, sebelum membagikannya pada masyarakat.
Selain itu, pihaknya akan menanyakan pihak statistil terkait banyaknya warga desanya yang tidak lagi menerima bantuan dari pemerintah. Padahal sebelumnya mereka jelas-jelas menerima bantuan tersebut dari pemerintah.
"Kalau sudah seperti ini pasti masyarakat menuding aparat desa yang bermain, apapun alasan yang kami berikan, mereka tetap tidak mau tahu-menahu urusan itu. Padahal yang memberikan kebijakan adalah pejabat diatas kami," ungkapnya.
Sementara Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Sumenep Heri Koentjoro P mengaku kesulitan untuk melakukan pendataan angka kemiskinan. Sebab, banyak faktor yang diakibatkan orang masuk dalam kriteria miskin. Salah satunya karena ditinggal suaminya, baik karena faktor cerai maupun karena ditingal mati. ”Banyak penyebab orang ,masuk dlam kriteria beperekonoisn rendah. Untuk melakukan pendataan memang harus memebutuhkan banyak waktu,” katanya
Kendati demikian, pihaknya mengaku untuk meminimalisr mebengkaknya angka ikemiskinan utmaya di Sumenep, pihaknya telah banyak mengeluarkan berbagai macam bantuan. Salah satunya bantuan RTLH (Ruman Tidak Layak Huni) dan bantuan yang lain.
Untuk dietahui berdasarkan data yang dikeluarkan oleh tim nasional percepatan penanggulangan kemiskinan (TNP2K) tahun 2013. Jumlah penerima dana kompensasi kenaikan BBM tersebut sebanyak 115.999 RTS (Rumah Tangga Sasaran).
Jumlah tersebut lebih kecil dibandingkan dengan jumlah penerima dana kompensasi sebelumnya yang mencapai 116.378 RTS. Jadi jumlah penerima dana kompensasi tersebut pada tahun 2013 mengalami penyusutan sebanyak 379 RTS. Sedangkan waktu pencairan dana tersebut dimulai sejak tanggal 23 November 2014 yang lalu. (di/fa)
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya

Flexible Home Layout

Tabs

Main menu section

Featured Posts Coolbthemes

featured-video

featured-content2

featured-content2

featured-content2

Social Icons