» » Trarif Listrik di Kepuluan Naik 50 Persen, Pasca Naiknya Harga BBM

Trarif Listrik di Kepuluan Naik 50 Persen, Pasca Naiknya Harga BBM

Penulis By on Rabu, 26 November 2014 |



SUMENEP – Pasca naiknya harga Bahan bakar Minyak (BBM) Bersubsidi, jug aberdampak terhadap kenian harga tarif listrik di sejumlah kepuluan. Salah satunya, yang terjadi di Kepuluan Gili Raja, Kecamatan Gili Genting. Sebelumya, akibat kenaikan harga BBM tersebut, juga berimbas terhadap kenaikan tarif trnasfortasi antar provinsi dan naiknya harga sejumlah komiditi yang berada di Kabuaten Sumenep.
Informasinya, pasca naiknya harga BBM bersubsidi dari Rp 6.500 menjadi Rp 8.500 untuk BBM jenis premium, dan Rp  7.500 dari sebelumnya Rp 4.500 untuk BBMjenis Solar, membuat sejumlah warga di sejumlah daerah mulai mengeluhkan pelayanan listik. Bahkan, pengurangan  pasokan listrik terhadap rumah warga berkurang drastis hingga 50 persen.
”Didaerah kami ada sebagain perusahaan yang mulai menaikan tarif listrik, dari yang sebelumnya hanya Rp 140 ribu, namun saat ini menjadi Rp 180 ribu,” kata slaahs atu warga Desa Banbaru, Kepuluan Gili Raja, Kecamatan Gili Genting.
Namun, lanjut Sahrul, kenaikan tarif itu tidak berlangsung secara serentak.
Sebagian, pemilik usaha penerangan itu ada yang hanya mengurangi jatah pasokan listrik. ”Awalnya di sini menyala 12 jam. Namun, saat ini hanya menyala sekitar 6 jam,” Kata Sahrul Gunawan, 37, warga Desa banbaru kecamatan setempat.
Akibat kebijakan sepihak itu, banyak warga yang memilik tidak menggunakan fasilitas listrik dan memilih menggunakan lampu pijar. ”Kalau itu akan diterapkan secara merata, kami yakin banyak warga yang memilih berhenti da memutuskan sambungan listrik tersebut. Karena, biaya yang akan ditanggung oleh warga akan bertambah membengkak,” terangnya.
Sahrul berharap agar pemerintah secepatnya merealisasikan pembangunan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Sehingga warga tidak tergantung lagi kepada pengelola diesel pribadi. ”Jnagan sampai kami dibiarkan hidup dalam keadaan gelap. Karena kami juga mempunyai hak yang sama dengan daerah daratan,” pintanya.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Fero Feriyanto (34) Warga Pualau Sapudi. Di pulau yang terkenal dengan populasi sapinya tersebut, pelayanan penerangan masih belum maksimal. ”Penerangan disini masih belum sepenuhnya normal. Kadang satu hari hidup, kadang pula sehari mati,” katanya
Belum normalnya penerangan itu, disebabkan Pengelola pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di sana menerapkan pemadanam secara bergilir, pasca kenaikan harga BBM per 20 Nobvember 2014 lalu.
Kebijkan tersebut, sangat meresahkan warga setempat. Sebab, walaupun pasokan aliran listrik tidak normal, warga tetap membayar pasokan itu seperti biasa. ”Disini warga sudah gelisah. Banyak yang berencana beralih ke diesel pribadi. Tapi masalahnya solar juga naik,” terangnya. (di/fa)


Baca Juga Artikel Terkait Lainnya

Flexible Home Layout

Tabs

Main menu section

Featured Posts Coolbthemes

featured-video

featured-content2

featured-content2

featured-content2

Social Icons