SUMENEP – Pasca
naiknya harga Bahan bakar Minyak (BBM) Bersubsidi, jug aberdampak terhadap
kenian harga tarif listrik di sejumlah kepuluan. Salah satunya, yang terjadi di
Kepuluan Gili Raja, Kecamatan Gili Genting. Sebelumya, akibat kenaikan harga
BBM tersebut, juga berimbas terhadap kenaikan tarif trnasfortasi antar provinsi
dan naiknya harga sejumlah komiditi yang berada di Kabuaten Sumenep.
Informasinya, pasca
naiknya harga BBM bersubsidi dari Rp 6.500 menjadi Rp 8.500 untuk BBM jenis
premium, dan Rp 7.500 dari sebelumnya Rp
4.500 untuk BBMjenis Solar, membuat sejumlah warga di sejumlah daerah mulai
mengeluhkan pelayanan listik. Bahkan, pengurangan pasokan listrik
terhadap rumah warga berkurang drastis hingga 50 persen.
”Didaerah kami
ada sebagain perusahaan yang mulai menaikan tarif listrik, dari yang sebelumnya
hanya Rp 140 ribu, namun saat ini menjadi Rp 180 ribu,” kata slaahs atu warga
Desa Banbaru, Kepuluan Gili Raja, Kecamatan Gili Genting.
Sebagian, pemilik
usaha penerangan itu ada yang hanya mengurangi jatah pasokan listrik. ”Awalnya
di sini menyala 12 jam. Namun, saat ini hanya menyala sekitar 6 jam,” Kata
Sahrul Gunawan, 37, warga Desa banbaru kecamatan setempat.
Akibat
kebijakan sepihak itu, banyak warga yang memilik tidak menggunakan fasilitas
listrik dan memilih menggunakan lampu pijar. ”Kalau itu akan diterapkan secara
merata, kami yakin banyak warga yang memilih berhenti da memutuskan sambungan
listrik tersebut. Karena, biaya yang akan ditanggung oleh warga akan bertambah
membengkak,” terangnya.
Sahrul berharap
agar pemerintah secepatnya merealisasikan pembangunan pembangkit listrik tenaga
diesel (PLTD). Sehingga warga tidak tergantung lagi kepada pengelola diesel
pribadi. ”Jnagan sampai kami dibiarkan hidup dalam keadaan gelap. Karena kami
juga mempunyai hak yang sama dengan daerah daratan,” pintanya.
Hal yang sama
juga dikatakan oleh Fero Feriyanto (34) Warga Pualau Sapudi. Di pulau yang terkenal
dengan populasi sapinya tersebut, pelayanan penerangan masih belum maksimal. ”Penerangan
disini masih belum sepenuhnya normal. Kadang satu hari hidup, kadang pula
sehari mati,” katanya
Belum normalnya
penerangan itu, disebabkan Pengelola pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di
sana menerapkan pemadanam secara bergilir, pasca kenaikan harga BBM per 20
Nobvember 2014 lalu.
Kebijkan
tersebut, sangat meresahkan warga setempat. Sebab, walaupun pasokan aliran
listrik tidak normal, warga tetap membayar pasokan itu seperti biasa. ”Disini
warga sudah gelisah. Banyak yang berencana beralih ke diesel pribadi. Tapi
masalahnya solar juga naik,” terangnya. (di/fa)

